Komink Kembali Untuk Hidupkan Tradisi Basket Bali


Jan 25, 2021

Pada era 90-an, pemain asal Bali bermunculan di liga profesional Indonesia. Sebut saja beberapa pemain yang melegenda seperti Tri Adnjana Adi Loka Tanaya, Cokorda bersaudara, I Made "Lolik" Sudiadnyana, hingga Riko Hantono. Kemudian di era 2000-an, ada nama Ponsianus Nyoman Indrawan, I Gusti Ngurah Teguh Putra Negara, hingga Handri Satrya Santosa. Namun dalam beberapa tahun terakhir Bali seperti kurang terdengar di kancah basket nasional. Sampai akhirnya, ada Bali United Basketball yang menjadi tim basket profesional pertama dari Bali.

Tetapi di awal kemunculannya, Bali United langsung diasumsikan sebagai tim bertabur bintang. Padahal sebagian besar penggemar basket Indonesia, esensi dari kemunculan Bali United adalah kebangkitan basket Bali itu sendiri. Sampai akhirnya, pada perkenalan pemain muncul nama Ponsianus Nyoman Indrawan atau yang akrab disapa Komink. 

Secara khusus, Komink menceritakan bahwa ada faktor utama yang membuatnya kembali bermain, meski sudah menyatakan pensiun. Komink diminta bermain lagi oleh Lolik. Alasannya, Komink harus mampu menghidupkan kembali tradisi basket Bali, yang kebetulan sekarang sudah punya tim di liga profesional. Komink punya tugas berat sebagai role model untuk pemain-pemain basket Bali di masa depan. Ibarat kata, Komink harus bisa meletakkan standar yang tinggi bahwa pemain Bali juga bisa bersaing dengan pemain dari daerah lainnya. 

Bagi IBL Fans yang mengikuti jejak Pelita Jaya Bakrie Jakarta, tentu sudah mengenal Komink dengan baik. Komink adalah salah satu forward terbaik yang dimiliki Indonesia. Dia punya kemampuan offense dan defense sama baiknya. Sampai-sampai ada yang bilang "berikan bola pada Komink di bawah ring, dia akan selesaikan sendiri". Ini karena Komink punya gerakan low-post yang beragam, ditunjang dengan kekuatan untuk melakukan offensive rebond. 

Perjalanan Komink di liga profesional diawali dari Bima Sakti Nikko Steel Malang. Dia bermain di klub tersebut sejak 2006 hingga 2009. Lalu dia pindah ke Pelita Jaya sampai pensiun pada tahun 2019. Komink ikut andil mengantar Pelita Jaya juara IBL 2016-2017. 

Dalam kurun waktu 13 tahun bermain di liga profesional, salah satu pencapaian terbaiknya adalah menjadi MVP di NBL Indonesia 2013-2014. Dari catatan statistik sepanjang 32 laga di musim reguler, Komink mencatatkan rata-rata 12,9 PPG, 8,5 RPG, 2,4 APG, dan 2,2 BPG. Dia mencetak field goals 54,3 persen dan free throw 73,5 persen.

Pada IBL 2016, Komink masih mampu menyumbang 10,2 PPG dan 7,1 RPG di musim reguler. Saat Pelita Jaya juara IBL 2016-2017, dia bisa mencetak 7,8 PPG dan 6,4 RPG. Komink saat itu mampu bekerja sama dengan pemain asing, Kore White, di bawah ring Pelita Jaya. Kemudian sebelum pensiun, tepatnya di musim 2018-2019, Komink bisa mengoleksi 6,1 PPG dan 4,0 RPG. 

Fakta menarik lainnya, Komink merupakan pemain asli Bali terakhir yang masuk timnas Indonesia. Terakhir, pria kelahiran Badung, 13 Agustus 1985 tersebut mendapatkan medali perak di SEA Games 2015 di Singapura. Walaupun kini ada nama Brandon Jawato yang juga punya darah Bali dari ayahnya. Namun, Komink tetap berstatus pemain asli dari Bali.

Kembali ke tim Bali United. Kekuatan tim ini sepertinya sudah tidak perlu diragukan lagi. Kehadiran Komink akan memperkuat paint area mereka. Selebihnya, ada dua orang pemain yang punya catatan bagus dalam offense, yaitu Daniel Timothy Wenas dan Yerikho Christpor Tuasela. Kehadiran mereka sebenarnya memudahkan tugas Komink. Karena, meski baru saja pensiun, usia Komink juga sudah tidak muda lagi. Secara fisik, pasti berpengaruh pada permainannya. Apalagi Komink sudah memasuki usia 36 tahun. 

Namun bukan itu inti dari kembalinya Komink di liga profesional. Dia ingin menjadi pemain yang mengantarkan Bali United menapaki gerbang liga profesional di tahun pertamanya. Ini penting bagi tim tersebut. Sebab, Komink akan jadi sosok panutan bagi pemain-pemain muda asli Bali. Harapannya, liga ini kembali diramaikan pemain-pemain asal Bali seperti era 90-an silam. (*)