Ibl Legends: Indra Allen Nasution Dari Ekskul Basket Langsung ke Kobatama


Sep 09, 2021

Indra Allen Nasution (jersey no 6) sudah malang melintang di kancah bolabasket semiprofesional Indonesia sejak dia duduk di bangku kelas 1 SMA pada tahun 1991. “Saya ditarik Pelita Bakrie untuk Kobatama 1991 ditangani coach Toto Sudarsono,” kenang Indra.

Menariknya, sebelum bergabung dengan Pelita, Indra tak pernah berlatih di klub lain. “Saya hanya berlatih basket sebagai kegiatan ekstra kurikuler pas SMP di Perguruan Cikini dan SMA Labschool Rawamangun,” jelasnya.

“Persaingan pemain dulu tak seketat sekarang. Yang tinggi 190 cm seperti saya masih jarang,” katanya merendah.

Tahun 1993, Indra masuk dalam tim PON DKI Jakarta dan membawa pulang medali perunggu, setelah itu dia terpilh masuk dalam tim nasional Indonesia di bawah usia 22 tahun dan berlaga dalam satu kejuaraan di Shanghai Cina pada tahun 1994. “Manajer timnya waktu itu adalah Danny Kosasih,” katanya menyebut nama yang kini menjabat sebagai Ketua Umum PP Perbasi.

Foto IG  @yuyusubagio  

Lima tahun bersama Pelita Bakrie, Indra kemudian hijrah ke Indonesia Muda. “Saya juga lima tahun bersama Indonesia Muda sebelum mundur pada tahun 2001,” ujarnya.  Sempat menjadi awak media pada sebuah stasiun televisi nasional, Indra kini berkarier di bidang hukum. “Saya cuma sebentar di Metro TV. Sekarang saya menjadi partner di Melli Darsa & Co, Advocates and Legal Consultans,” jelasnya.

Indra memang Sarjana Hukum lulusan Universitas Indonesia. Dia bahkan memiliki dua gelar sarjana. Gelar sarjana akuntansi diraihnya dari Perbanas. “Saya memang kuliah pada dua perguruan tinggi tersebut. Tahun 1994 saya masuk Perbanas, tahun 1996 saya masuk ke UI lewat Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN),” paparnya. Indra lulus sarjana akuntansi dari Perbanas pada tahun 1999 dan dua tahun kemudian, 2001,  dia menyelesaikan studi di Fakultas Hukum UI. Indra boleh disebut sebagai salah satu contoh sukses student athlete di Indonesia.

Tak lagi menjadi pemain basket profesional, Indra masih sering bermain bolabasket rutin dua kali seminggu bersama rekan-rekan alumni perguruan tingginya dan teman-teman kantor. “Tetapi sejak pandemi Covid-19 saya tak berani lagi main basket. Berhenti sejak Maret 2020. ,” akunya.

“Olahraga saya sekarang treadmill dan sepeda statis dirumah. Kadang sedikit-sedikit angkat beban,” sambungnya.

Indra menilai pebolabasket Indonesia sekarang memiliki postur lebih kekar. “Dulu jaman saya,  pemain setinggi saya paling disuruh rebound dan block shot saja, sekarang center juga harus bisa menembak tiga angka,” katanya mengomentari perkembangan pemain bola basket Indonesia masa kini.

 

Credit Foto: Tjandra Amin