West Bandits Solo Berharap Konstribusi Besar dari Moh. Saroni


Feb 10, 2021

Kata "comeback" lazimnya disematkan pada pemain yang kembali bermain di liga profesional setelah pensiun. Namun, kata tersebut rasanya masih bisa diberikan kepada Mohammad Saroni dan beberapa pemain yang tampil di IBL lagi setelah bermain di liga lainnya. Sebagai tim baru, West Bandits Solo tampaknya tak ingin memandang prestasi masa lalu. Mosar (panggilan Moh. Saroni) diharapkan bisa memberi kontribusi lebih besar dibanding dengan saat membela tim-tim sebelumnya. 

Mengawali basket dari klub CLS junior, namanya mulai melejit ketika dipanggil selesti timnas basket Indonesia proyeksi SEA Games 2015, yang kala itu dilatih oleh Fictor Gideon Roring. Dia dipanggil karena bermain bagus di Kejurnas Basket KU-18 tahun 2014. Mosar saat itu punya postur yang bagus untuk ukuran seorang pemain basket. Pada usia 15 tahun, tingginya sudah mencapai 180 cm. Lalu sekarang, dia tercatat sebagai pemain dengan tinggi 199 cm. 

Meski tidak masuk skuad SEA Games kala itu, namun pengalaman mengukuti seleksi timnas menjadi bekal berharga untuk menapaki karir di jejang berikutnya. Mosar pun masuk menjadi rookie CLS Knights Surabaya di IBL 2016 bersama Jamarr Andre Johnson, Devucanizar Negara, Rodmundus Ottu Ray, dan Heronimus Hiro Londa. Meski saat itu perannya masih sedikit, namun dia tercatat sebagai pemain CLS Knights yang meraih juara IBL 2016.

Setelah juara, CLS Knights melakukan perombakan roster. Saroni salah satu dari beberapa pemain yang dipinjamkan ke Bima Perkasa Jogja. Saat itu, Mosar cukup berjasa dalam beberapa pertandingan Bima Perkasa. Sebab, tim ini sempat bermasalah dengan beberapa pemain asing. Sehingga gonta-ganti pemain asing, membuat tim kacau balau. Mosar muncul sebagai center cadangan yang siap menghalau pemain lawan. 

Saat CLS Knights memutuskan bermain di ABL tahun 2017, Mosar pun ikut. Selama dua musim, Mosar masuk roster dan memperkuat rotasi bigman, di bawah lini kedua, yang saat itu dihuni oleh Firman Dwi Nugroho. Meski tak banyak peran yang didapat. Namun pengalaman dilatih oleh pelatih asing, dan bermain melawan pemain asing bisa membuat permainannya improve. Bisa dibilang, Mosar yang sekarang jauh lebih baik ketimbang tiga tahun lalu. Peningkatan performanya bisa dua atau tiga kali lipat. 

Sementara itu, secara status kepemilikian pemain, dia sudah resmi milik West Bandits sepenuhnya. Jadi Mosar bisa lebih fokus dan lebih punya komitmen untuk mengeluarkan seluruh kemampuannya di IBL 2021. 

Tak banyak catatan statistik Mosar. Karena memang, dia bukanlah pemain inti di sepanjang karier profesionalnya. Namun bila melihat komposisi tim West Bandits untuk IBL 2021, tampaknya dia masih menghuni lini kedua. Sebab, tim ini punya Pringgo Regowo yang lebih senior darinya. Tapi bisa saja Mosar dimainkan sersama dengan Pringgo dalam satu tim. Jadi West Bandits bisa punya dua tower besar di bawah ring yang sulit ditembus oleh lawan.

Catatan prestasi Mosar memang cemerlang. Namun Mosar tentu ingin memberi kontribusi yang besar pada tim. Itu lebih membanggakan bagi seorang pemain. (*)