Ulasan Paruh Musim: Ada Apa Dengan Amartha Hangtuah


Feb 13, 2020

Apakah Amartha Hangtuah jadi tim paling buruk di Indonesian Baksetball League (IBL) 2020? Jawabannya, bukan yang paling buruk, hanya saja mereka sudah kalah delapan laga beruntun. Hangtuah hanya belum menemukan momentum kebangkitan mereka.

Hangtauh bukan tim buruk. Mereka bisa mencetak 73,3 PPG selama empat seri atau sembilan pertandingan. Jumlah itu ada di peringkat kedelapan dari 10 kontestan. Kenyataan pahitnya, Hangtuah hanya menang satu kali dari sembilan pertandingan. Ironisnya kemenangan tersebut didapat dari Satya Wacana Salatiga di Seri I Semarang. Selebihnya, Hangtuah kalah beruntun.

Berbagai cara sudah dilakukan, termasuk mengganti pemain asing. Mereka kini punya Emilio Parks dan Steven Mallory. Dalam empat laga, Parks mencetak 11,5 PPG dan 7,0 RPG. Sedangkan Mallory mampu mencatatkan rata-rata 6,0 PPG dan 2,5 RPG. Justru yang masih bisa dikatakan produktif adalah LaQuavius Cotton dengan rataan 23,7 PPG dan 9,8 RPG.

Ada satu catatan statistik yang buruk, yang membuat Hangtuah bisa kalah delapan kali. Faktor tersebut adalah defense. Penjelasan paling masuk akal adalah Hangtuah tim paling lemah di defense. Buktinya, rata-rata poin kemasukan Hangtuah paling tinggi yaitu mencapai 88,6 PPG. Ini catatan paling buruk diantara sembilan tim lainnya. 

Hangtuah masih punya sembilan pertandingan lagi di reguler season. Mereka juga masih punya setidaknya 15 hari untuk menyusun strategi sekaligus memperbaiki permainan mereka. Menarik untuk disimak, apakah mereka bisa bangkit, atau justru semakin terpuruk di dasar klasemen. Yang jelas, ganti pemain asing sudah tidak bisa lagi mereka lakukan.