Sejarah Klub: Halim Kediri, Kejayaan Tinggal Kenangan


Jun 07, 2020

3 April 1982 menjadi hari bersejarah untuk basket Indonesia. Ini menjadi hari pertama Kompetisi Bola Basket Utama (Kobatama) bergulir. Pesertanya sembilan tim, dengan rincian empat tim dari Jakarta yaitu Indonesia Muda, Rajawali, Mingsen, dan Taman Harapan Indah. Lalu tiga tim dari Jogjakarta yaitu Mataram Utama, Union, dan Semangat Sinar Surya (SSS). Dari Bandung ada satu tim yaitu Tarumatex. Sedangkan yang terakhir wakil dari Provinsi Jawa Timur yaitu Halim Kediri. 

Indonesia Muda (IM) menjadi juara edisi pertama Kobatama dan menjelma sebagai tim terkuat pada tahun-tahun awal munculnya Kobatama. Halim Kediri jadi rival utama. Peta persaingan berubah usai munculnya ASABA Jakarta. Klub yang kemudian berganti nama menjadi ASPAC Jakarta menjadi yang terbaik pada 1988 dan 1989. Pelita Jaya Jakarta sukses merebut gelar juara berturut-turut, masing-masing pada edisi 1990 dan 1991-1992, Tapi setelah itu, ASABA kembali meraih gelar pada 1993. 

Pada 1994, Persatuan Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) memberlakukan sistem sirkuit (seri) di Kobatama, serta penggunaan pemain asing. Pemain asing di liga Indonesia yang membuat Halim Kediri mundur. Itulah awal cerita liga Indonesia, dan mundurnya Halim.

Dari cupikan cerita tersebut bisa disimpulkan bahwa Halim Kediri adalah klub yang fokus pada pembinaan pemain lokal. Halim juga dikenal sebagai Persatuan Bolabasket (PB) Halim Kediri adalah klub bola basket yang terkenal di Indonesia. Berdiri sejak 22 Juni 1976. Halim telah memenangkan banyak turnamen dan kompetisi nasional. Klub ini juga berkontribusi melahirkan banyak pemain berbakat baik pria dan wanita. Banyak talenta muda dari seluruh negeri bergabung dengan Halim untuk belajar bola basket dan menjadi bagian keluarga besar Halim.

Rasanya untuk generasi sekarang, Halim hanya tinggal cerita. Menarik atau tidak, itu relatif. Karena kejayaan masa lalu terkadang tidak menarik lagi bagi generasi milenial. Mereka lebih suka melihat apa yang terjadi sekarang. 

Faktanya, Halim memang melahirkan banyak sekali pemain hebat. Bahkan masih ada sisa-sisanya di kompetisi basket profesional Indonesia. Meski tinggal sedikit. Ini terjadi setelah klub tersebut vakum, bukan hanya untuk kompetisi profesional saja, melainkan sampai ke akar rumput, yaitu pembinaan usia dini. Halim benar-benar menghilang dari radar basket Indonesia.

Bintang-bintang basket Halim adalah Lei Gwan Chin, Heru Wiyono, Rendy yuwono, Robi, Karianto, Pek King Sing, Wirjono, Go Ing Djoeng, Lie Gwan Ming, dan Lie Tjui Tek. Mendengar nama-nama ini saja, generasi milenial pasti asing. Mereka memang pemain terkenal di tahun 80 hingga 90-an. 

Namun berbicara soal pembinaan, masih ada sisa-sisa Halim yang terlihat di IBL 2020. Mereka yaitu Wendha Wijaya (Louvre Surabaya), dan Donny Ristanto (Pacific Caesar Surabaya). Mereka berdua sekarang sudah berstatus sebagai pemain senior di liga. Sementara itu, ada angkatan muda Halim yang sebenarnya tersisa di liga sekarang. Dia adalah Achmad Syarif. Pernah bermain di CLS Knights Surabaya, dan pindah ke NSH pada tahun 2016. Namun setelah dua musim di NSH, nama Achmad Syarif tidak muncul lagi di roster tim manapun.

Bagaimana pun juga, Halim Kediri adalah tim besar. Tim dengan sederet prestasi gemilang dan segudang pemain binaan. Sayangnya kejayaan tersebut tinggal kenangan karena klub ini sudah tidak aktif lagi. Yang tersisa hanya cerita kejayaan semata.

Namun bukan berarti generasi sekarang melupakan klub ini. Halim adalah bagian dari sejarah panjang basket Indonesia. Patut untuk dikenang karena perannya membina pemain-pemain Indonesia. (*)