Sandy Febiansyakh, Harapan Baru Louvre Dewa United Surabaya


Feb 05, 2021

Louvre Dewa United Surabaya kehilangan segalanya saat IBL 2020 berakhir. Mereka tidak punya pengatur serangan cadangan, pendulang poin, hingga benteng terakhir di pertahanan. Tetapi secercah harapan muncul ketika manajemen Louvre berhasil meyakinkan Sandy Febiansyakh Kurniawan untuk tampil lagi di IBL. 

Louvre memang masih punya Wedha Wijaya, tapi mereka kehilangan Dimaz Muharri, yang biasanya digunakan sebagai rotasi pengatur serangan. Kemudian mereka juga kehilangan Daniel Thimoty Wenas yang kini merapat ke Bali United Basketball. Seperti diketahui, Daniel merupakan pendulang poin terbanyak di Louvre dan di sepanjang IBL 2020 untuk pemain lokal. Kehilangan Daniel akan meninggalkan lubang yang besar di tim Louvre, khususnya dari produktifikas poin. Sedangkan yang terakhir, mereka kehilangan benteng pertahanan terkuat. Galank Gunawan memilih kembali ke tim lamanya, Bank BPD DIY Bima Perkasa. 

Salah satu strategi instan yang bisa dilakukan untuk menambal kekurangan sebuah tim adalah mengambil pemain. Tentunya harus yang berpengalaman dan bisa segera beradaptasi dengan tim ini. Akhirnya, pilihan manajemen Louvre jatuh ke Sandy Febiansyakh. Salah satu shooter terbaik di Indonesia. 

Soal pengalaman, Sandy sudah pernah bertanding di IBL, NBL Indonesia, IBL era baru, ABL, hingga yang terakhir di TBSL. Jadi tidak perlu diragukan lagi kemampuannya. Sandy juga beberapa kali tampil membela Merah Putih di ajang SEA Games dan turnamen resmi FIBA Asia Tenggara. Prestasi terbaiknya adalah juara IBL 2016, juara ABL 2018-2019, medali perak SEA Games 2015 dan 2017, serta menjadi juara di FIBA Asia Cup 2021 SEABA Pre-Qualifiers tahun 2018.

Sandy memang layak disebut sebagai shooter terbaik tanah air. Pada masa jayanya, di NBL Indonesia 2014-15, dia pernah mencetak 3PTS FG sebesar 40,5 persen (92/227) dalam 32 pertandingan. Setelah CLS Knights menjadi juara, Sandy sering tampil membela timnas. Bahkan di SEABA 2017, dia tercatat mencetak rata-rata 11,5 PPG dengan 3PTS FG sebesar 47,5 persen dalam enam pertandingan. Saat itu, Indonesia mendapatkan peringkat kedua setelah kalah dari Filipina di final. Namun dari angka-angka tersebut bisa diketahui betapa berbahayanya seorang Sandy Ferbiansyakh.

Namun yang menjadi pekerjaan rumah bagi pelatih Andika adalah mengembalikan performa Sandy seperti beberapa tahun lalu. Sebab, Sandy sudah lama tidak bermain di IBL. Akurasi tembakannya juga menurun. Tetapi Andika percaya bahwa Sandy merupakan pemain profesional yang bisa menemukan cara sendiri untuk bisa kembali tajam. Disamping itu, Andika butuh seorang Sandy Febiansyakh untuk membimbing pemain muda Louvre. Pegalamannya sebagai kapten di tim CLS Knights sangat dibutuhkan. Tentunya IBL Fans tak sabar untuk melihat penampilan tim Louvre dengan roster yang baru. (*)