Masih Perlukah Pemain Senior di Tim?


Jul 22, 2021

Pemain senior adalah pemimpin dalam tim. Sebagai role model bagi pemain-pemain muda. Membimbing mereka lebih baik dalam kompetisi, karena lebih berpengalaman. Tapi benarkah demikian? Mari kita lihat pada IBL Pertamax 2021.

Definisi pemain senior itu relatif. Bisa saja dilihat dari usia, atau dari pengalaman bertanding di liga profesional. Tapi kebanyakan di Indonesia, seorang pemain dikatakan senior karena usianya. 

Di IBL Pertamax 2021, beberapa tim punya pemain senior. KAI Bima Perkasa punya M. Isman Thoyib dan Galank Gunawan, West Bandits Solo punya Merio Ferdiansyah, Fadlan Minallah, dan Pringgo Regowo. Ponsianus Nyoman Indrawan di Bali United Basketball. Louvre Dewa United Surabaya punya Wendha Wijaya. Hangtuah saat itu punya Oki Wira Sanjaya dan Kelly Purwanto. Serta NSH Mountain Gold Timika dengan Rizky Effendy dan Ruslan. 

Namun banyak juga dari mereka yang usianya masih relatif muda, namun bisa dikatakan senior karena pengalaman bermain di liga profesional, seperti contohnya Arki Dikania Wisnu dan Andakara Prastawa Dhyaksa. 

 

Kehadiran pemain senior bisa memberi dampak besar dalam tim. Seperti yang terjadi di Bali United. Mereka punya Ponsianus Nyoman Indrawan. Pemain yang akrab disapa Komink ini sangat membantu dalam perkembangan Bali United. Komink membangkitkan kepercayaan diri pemain, meski mereka berstatus kontestan baru di liga. Sama halnya dengan Pringgo Regowo di West Bandits. 

Hebatnya lagi, mereka tidak ada di belakang layar. Dalam arti, keduanya juga menunjukkan performa menawan. Pringgo bisa mencetak rata-rata 10,7 PPG, 5,3 RPG, dan 1,5 APG di musim lalu. Dia membantu West Bandits sampai ke empat besar IBL Pertamax 2021. Sedang Komink mampu mencetak rataan 11,3 PPG, 7,9 RPG, dan 2,8 APG. 

Tapi ada pula tim dengan pemain senior yang justru malah terpuruk. Contohnya NSH dan Hangtuah. Meski ada alasan yang masuk akal untuk hal ini. Para pemain senior milik kedua tim itu baru saja kembali dari istirahat panjang. Bisa karena cedera, atau memang memilih absen dari kompetisi profesional sebelumnya. Namun ketika pemain senior yang notabene sudah dikenal penggemar kurang berkontribusi, maka itu bisa menimbulkan kekecewaan penggemar. Sejauh ini memang tidak ada ukuran yang jelas tentang hal tersebut. Apakah performa pemain senior sudah sesuai dengan ekspektasi tim dan penggemar atau tidak. 

Meski demikian, ada pula tim yang sama sekali tidak memakai pemain senior. Mereka adalah Satya Wacana Saints Salatiga dan Indonesia Patriots. Dua tim ini punya performa yang juga tak kalah dengan tim yang ada pemain seniornya. Satya Wacana memang sedang masuk dalam tahap pembinaan tim baru. Mereka selalu melakukan hal tersebut ketika para pemain senior pergi dari tim. Di IBL  Pertamax 2021, The Saints Salatiga mengandalkan bintang-bintang muda. Buktinya mereka bisa memberikan perlawanan saat berlaga dengan tim-tim papan atas.

Kemudian Indonesia Patriots 2021, memang sengaja dibuat PP Perbasi dari pemain-pemain muda di bawah usia 23 tahun. Mereka menjadi fenomena baru di IBL Pertamax 2021, dengan mengalahkan beberapa tim besar. Termasuk memenangkan pertandingan beruntun, sebelum dihentikan Satria Muda. 

Setelah melihat dua fakta tersebut, maka IBL Fans tentu bisa memberikan tanggapan. Bagaimana sebaiknya tim-tim IBL ke depan. Apakah mengedepankan pembinaan pemain, atau tetap memberikan tempat untuk pemain senior agar bisa membimbing pemain muda. Semuanya tergantung pada kebijakan klub masing-masing. 

Yang jelas, kita sudah tidak sabar untuk segera menyaksikan liga musim depan. Berharap persiapan tim lebih baik, dan bisa menampilkan pertandingan seru di liga musim 2022 nanti. (*)