Konsistensi Louvre Surabaya


Feb 02, 2020

 

Louvre Surabaya belajar banyak hal dari setiap seri IBL Pertamax 2020. "Pelajaran penting adalah konsistensi. Seri pertama kita menang dua kali, seri kedua kita selalu kalah dan seri ketiga kembali menang, " kata pelatih Louvre, Andika Supriadi Saputra.

 Di seri ketiga masih soal konsistensi,  dia menyorot konsistensi timnya pada setiap kuarter, terutama ketika menang dari Pacific Caesar Surabaya, Minggu 2 Februari. 

"Kuarter pertama kami kesulitan dan selalu tertinggal. Kuarter kedua dan ketiga bisa ambil alih," kata Bedu, sapaan karibnya.

Pemain senior Louvre Wendha Wijaya menyebut kemenangan timnya karena semua pemain berkontribusi. "Kami fokus pada defense,  baru kemudian ofense," kata Wendha.

Pelatih Pacific,  David Singleton menyebut turn over menjadi masalah bagi timnya, timnya melakukan 20 turn over,  12 diantaranya dilakukan para pemain asing.

"Kami juga kurang dalam free throw," kata Singleton. Pacific hanya melesakkan sembilan lemparan dari 21 kesempatan lemparan bebas.

"Kami juga banyak melakukan permainan individu. Defense juga jelek," kata Singleton.

Pemain Pacific, Yerikho Tuasela mengakui mengakui kekurangan pasukannya. "Ada beberapa salah komunikasi pada beberapa sesi, kesalahan ini bisa dimanfaatkan oleh Louvre," ujar Yerikho.