Kaleidoskop IBL 2020: Semarang Selalu Berkesan


Dec 26, 2020

Dua musim berturut-turut Indonesian Basketball League dibuka di GOR Sahabat, Semarang, yaitu IBL Pertamax 2018-2019 dan IBL Pertamax 2020. IBL punya kesan yang baik dengan publik basket kota Semarang. 

Momen-momen penting IBL Pertamax 2020 juga terjadi di Semarang. Pertama tentu saja kemunculan klub baru bernama Louvre Surabaya. Meski bermarkas di Kota Pahlawan, tapi Louvre memilih memperkenalkan komposisi tim untuk musim 2020 di Semarang. Ternyata mereka berhasil mengejutkan IBL Fans dengan sapu bersih dua pertandingan di GOR Sahabat. Louvre mengalahkan Bank BPD DIY Bima Perkasa (81-71), dan menumbangkan Prawira Bandung (81-79). 

Ini memang kejutan bagi IBL Fans, khususnya bagi mereka yang bisa disebut sebagai bandwagon Louvre. Sebab, meski berlabel tim baru, Louvre diperkuat pemain-pemain bintang basket Indonesia seperti Daniel Wenas, Galank Gunawan, Wendha Wijaya, hingga Dimaz Muharri yang bersedia kembali setelah pensiun di tahun 2016.

Tetapi Semarang juga menyimpan kesan luar biasa bagi tim Amartha Hangtuah dan Satya Wacana Salatiga. Ketika bermain di GOR Sahabat, keduanya terlibat persaingan ketat hingga babak overtime. Seperti yang diramalkan, ternyata di IBL 2020, peristiwa tersebut terjadi lagi. Empat kuarter ternyata tidak cukup untuk menyelesaikan laga sengit antara Satya Wacana melawan Hangtuah. Hasilnya, Hangtuah menang 115-109 di babak tambahan waktu. 

IBL Pertama Seri 1 Semarang juga menjadi seri pertama bagi kompetisi basket kasta tertinggi di Indonesia menggunakan tiga pemain asing. Keputusan tersebut diambil untuk mengimbangi Indonesia Patriots. Tim yang dibentuk dari pemain-pemain terbaik di tanah air, sebagai bentuk pemusatan latihan timnas. Justru yang mengejutkan, di kemunculan perdana tim yang diperkuat dua pemain naturalisasi, Lester Prosper dan Brandon Jawato tersebut, malah kalah dari Pelita Jaya Bakrie (73-64). Pelita Jaya terlihat perkasa dengan menampilkan Dior Lowhorn sebagai pusat permainan tim.

Tapi IBL Fans harus ingat bahwa ada kejutan kecil yang menarik di Semarang, yaitu tentang Satria Muda Pertamina Jakarta. Tim yang selalu ada di papan atas liga, memulai seri Semarang dengan kemenangan 69-59 atas NSH Jakarta. Tetapi di laga kedua, justru tim asuhan pelatih Milos Pejic tersebut kalah dari Bima Perkasa (58-66). 

Bila diingat kembali, hanya ada dua tim yang sapu bersih di seri Semarang yaitu Louvre dan Pelita Jaya. Itu dari sisi pertandingan. Kemudian dari sisi kepelatihan, GOR Sahabat menjadi tempat debut beberapa pelatih baru. Milos Pejic bersama Satria Muda, Octaviarro Romely Tamtelahitu bersama Pelita Jaya, Andika Supriadi Saputra bersama Louvre, Harry Prayogo bersama Hangtuah, Antonius Ferry Rinaldo bersama NSH, dan David Singleton bersama Pacific Caesar Surabaya. Serta, ada Rajko Toroman yang memimpin Indonesia Patriots. Karena ini menjadi kiprah pertama bagi Toroman berkompetisi di IBL.

Tetapi ada sedikit catatan yang kurang baik. Direktur Utama IBL Junas Miradiarsyah mencatat bahwa kondisi lantai GOR Sahabat kurang memadahi untuk digunakan bertanding dengan intensitas tinggi. Terutama ketika musim hujan. Ini akan menjadi evaluasi bagi IBL di kemudian hari. (*)