Ibl Legends: Syahrizal Affandi Sukses di Basket Membawa Sukses di Studi


Jul 25, 2021

Syahrizal Affandi adalah salah satu kunci sukses Satria Muda ketika menjadi juara Kobatama tahun 1999. Sebagai point guard andalan dia mampu menciptakan peluang bagi rekan-rekan menciptakan angka.

"Pengalaman berkesan, baru bergabung dengan Satria Muda dan menjadi juara pada tahun yang sama," kata Jali, sapaannya. 

Mengawali latihan dengan klub basket Adion Jakarta, Syahrizal kemudian hijrah ke Bandung meneruskan studi di Fakultas Ekonomi Universitas Padjajaran.

Jali kemudian direkrut klub Siliwangi pada tahun 1994. Klub ini diproyeksikan mematangkan tim Jabar menghadapi PON 1996 di Jakarta.

"Itu PON pertama dengan pembatasan usia pemain. Kami akhirnya berhasil merebut medali emas PON 1996," kenangnya.  Pada tahun 1998, Jali bergabung dengan klub legendaris Bandung, Panasia Indosyntec. Hanya semusim dia di Panasia. "Ada perselisihan dan saya memilih mundur," akunya.

Jali kembali ke Jakarta. Tiga klub Kobatama di Jakarta saat itu menawari dia bergabung. "Pelita Jaya, Indonesia Muda dan Satria Muda mengajak saya bergabung. Saya memutuskan memilih Satria Muda salah satunya karena para pemainnya sebaya," ujarnya. Pemain Satria Muda yang lebih senior darinya waktu itu adalah Amran Andi Sinta dan Fictor "Ito" Roring.

"Ito yang lebih dulu masuk Satria Muda juga sempat bertemu dan meminta saya bergabung dengannya," tambah Jali.

Pilihannya berbuah berkah. Dia menjadi juara bersama Satria Muda. "Tak pernah terpikir sebelumnya kami bisa menjadi juara," ungkapnya.

Credit foto : Tjandra M Amin

 

Berkah lain adalah Jali bisa meneruskan studi ke jenjang lebih tinggi. "Saya meminta bisa meneruskan studi S2 dan disetujui dengan syarat harus di Universitas Indonesia. Tak apa tak ada kontrak tetapi diganti dengan biaya studi S2" ceritanya. 

 "Saya ingin mengisi waktu seusai latihan pagi dan menunggu latihan sore dengan kuliah, daripada bengong," katanya. Dia selesaikan magister di UI dengan tepat waktu. "Saya lulus on time, tahun 2000," paparnya. Syahrizal mengakhiri karier basket di Satria Muda pada 2003, kemudian fokus pada pekerjaan di luar lapangan basket.

Studi adalah hal penting baginya. "Tak mungkin terus di basket. Saya ingin mengubah warna kehidupan apalagi terus terang saya berasal dari keluarga susah," akunya lagi. Jali lahir sebagai anak ketiga dari tujuh bersaudara.  "Ayah saya sudah pensiun ketika saya dan adik adik masih sekolah," kenangnya.

Lewat basket Jali mengubah kehidupan.  "Ketika di Siliwangi, saya juga sering ikut latihan seminggu sekali pada sebuah klub amatir di Bandung, dapat uang saku Rp. 3 ribu sudah senang, hanya main fun saja," ceritanya sambil tersenyum.

Walau ingin mengubah warna hidup, Jali ternyata tak bisa berpisah dengan dunia basket. Dia sempat berada di belakang layar klub Garuda. "Almarhum Andre Mamuaya meminta saya membantunya, tetapi saya tak mau terjun langsung di lapangan, biar tetap di kantor saja," katanya.

Andre juga memiliki ide membangun lapangan latihan bagi Garuda, namun sayang sebelum terwujud Andre sudah berpulang.  Garuda pun kini sudah berevolusi menjadi Prawira, namun Jali mencoba mewujudkan cita-cita tersebut hingga kemudian berdirilah Brick House.

"Cukup ramai juga antusiasme pecinta basket main di Brick House," katanya. "Teman-teman banyak yang menyarankan kepada saya untuk juga membuka sekolah basket seperti mereka. Saya akan coba mewujudkan," pungkasnya.