Ibl Legends : Johannis Winar Beruntung Dibimbing Para Senior


Aug 09, 2020

Darah basket memang mengalir pada diri Johannis Winar. Ayahnya Hendy Winar dan sang ibunda Yu Ling Chen adalah pemain basket. Sang paman, Arlan Winarso juga pernah menjadi pemain nasional. Hendy juga menjadi pembina klub Flying Wheel Makassar.

“Dari Engkong, Papa, Mama dan Paman serta keluarga lain memang penggemar basket. Ada lapangan basket di belakang rumah saya. Jadi kalau pintu depan rumah dikunci, saya main basket di belakang rumah,” cerita Ahang, sapaan mantan pemain nasional yang kini menjadi asisten pelatih tim nasional Indonesia ini.

Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar Ahang sudah berlatih basket. Dia makin intens berlatih ketika duduk di bangku SMP Garuda. “Saat itu sekolah mengikuti Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) dan saya masuk tim basket,” kenangnya. Menginjak SMA, Ahang makin serius berlatih basket. “Sekolah saya, SMA Katolik Cenderawasih memang dikenal kuat di cabang basket dan bola voli. Saya bahkan juga terpilih masuk tim basket POPSI Sulsel dan main di Senayan. Inilah kejuaraan tingkat nasional pertama yang saya ikuti,” tuturnya.

Ahang pun menjadi andalan tim daerahnya menuju PON 1989 di Jakarta. Bakatnya menarik klub Kobatama asal Banjarmasin saat itu, Banjar Utama. Kontraknya saat itu hanya ditulis dibalik kartu nama sang pemilik klub,“Tapi saya tidak langsung masuk tim Banjar Utama, lebih dahulu main di tim kedua mereka, Antasari,” paparnya. Di Banjarmasin ketajaman dan kepiawaiannya mulai terasah.

“Senior-senior di Banjar Utama menjadi mentor bagus bagi saya,” ucap Ahang. Saat itu, Banjar Utama dihuni para pemain andal, beberapa diantaranya adalah shooter tajam seperti Filiks Bendatu, Ateng Sugianto, Waseto, Indrawadi Tanjung dan beberapa nama lain.

“Saya beruntung mereka memberi perhatian dan membimbing,” kata Ahang. Ateng tiap pagi membangunkannya untuk berlatih shooting. “Jam 5 pagi saya sudah harus bangun latihan shooting 500 tembakan. Mereka latihan jam tujuh. Sore hari pemain senior lainnya juga menyuruh saya latihan menembak lagi, jadi bisa 1000 tembakan saya lakukan dalam sehari,” ungkapnya.

Banjar Utama mengasah kemampuan Ahang. Sayang, pada tahun 1993, Banjar Utama dibubarkan. Ahang sempat bermain membela Kalimantan Selatan pada PON 1993 di Jakarta. Banjar Utama bubar, namun Ahang masih bertahan di Banjarmasin. “Pak Budi Surya, pemilik Banjar Utama, mempekerjakan saya di kantornya, sambil bermain untuk klub amatir milik beliau, Daya Sakti,” tuturnya.

Latihan di Daya Sakti tidak seintens latihan bersama Banjar Utama. Ahang hanya berlatih tiga kali seminggu. Tiga tahun bekerja kantoran, Ahang mendapatkan tawaran dari klub Kobatama asal Bandung, Panasia Indosyntec. “Manajer Panasia, Suwandi Bing Andi mengajak saya bergabung, saya pun hijrah ke Bandung,” katanya. Tahun pertama bergabung 1996, Panasia gagal menjadi juara baru setahun kemudian, Ahang berhasil menjadi juara Kobatama bersama Panasia dan diulangi lagi pada musim berikut. “Motivasi kami waktu itu tinggi sekali,” tegasnya. 

Tahun 1997, Ahang pun masuk dalam skuat tim nasional Indonesia untuk SEA Games 1997 di Jakarta, namun gagal mendapatkan medali. Dua tahun kemudian, Ahang kembali masuk tim nasional dan merebut medali perunggu SEA Games 1999 Brunei Darussalam.

Dia juga dipanggil mengikuti seleksi tim nasional menghadapi SEA Games 2001 di Kuala Lumpur Malaysia, namun mengundurkan diri. “Saya mundur karena menikah pada tahun tersebut,” akunya. Ahang menikah dengan pemain nasional putri, Joan Suryana. 

Ahang bersama Panasia hingga tahun 2003. Dia memutuskan pindah ke Satria Muda Jakarta. Bersama Satria Muda dia meraih gelar juara IBL 2004. Tahun 2006 dia mencoba kembali ke Bandung, ketika itu Panasia sudah berubah nama menjadi Garuda Bandung. “Saya menjadi asisten pelatih Kak Amran,” kata Ahang. Tahun 2009, Ahang untuk pertamakali menjadi head coach di Hangtuah Sumsel, namun hanya setengah musim. Dia kemudian menjadi asisten pelatih Stadium.

Tahun 2010, dia dipercaya memegang kendali di Garuda Bandung. “Garuda berhasil menjadi juara turnamen Piala Gubernur DKI, tetapi di babak reguler hanya mampu duduk pada peringkat keempat. Tahun 2013 dia merapat ke Pelita Jaya, menjadi asisten pelatih bagi Nath Canson kemudian mendampingi AF Rinaldo hingga akhirnya didapuk menjadi pelatih kepala Pelita Jaya dan sukses mengantar timnya menjadi juara IBL 2017. Total empat kali Ahang meraih gelar juara di level tertinggi bola basket nasional. Tiga kali sebagai pemain  dan sekali sebagai pelatih kepala.

Ahang menilai secara skill individu, pemain sekarang sudah bagus hanya saja dia menyebut jumlah pemain bola basket yang tersedia dan mumpuni bertanding pada level tertinggi masih sangat kurang.

“Kuantitas pemain dengan skill bagus masih kurang. Terlihat dari perputaran pemain baik di tim nasional maupun klub IBL ,” katanya. Dia menyebut diperlukan kompetisi untuk level di bawah IBL. “Pemain dari Liga Mahasiswa masih membutuhkan jam terbang lagi sebelum berlaga di IBL. Untuk itu diperlukan kompetisi nasional di bawah IBL untuk mematangkan mereka,” sarannya.