IBL Bukan Sekadar Kompetisi


Jul 05, 2021

Direktur Utama IBL Junas Miradiarsyah membagi pengalaman dan kiat saat menjalankan Kompetisi IBL Pertamax 2021 dimasa pandemi pada acara webinar The Asian Heroes : Millenial Test X PPI Tiongkok Millenial Hub 2021, Sabtu 3 Juli.

Sukses Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018 menjadi momentum bangsa Indonesia untuk menjadi lebih besar lagi terutama di bidang olah raga. IBL pun menangkap momentum ini tentu disertai dengan inovasi agar lebih baik lagi.

"Namun, kita harus tetap siap juga dengan perubahan. Itu terjadi ketika mulai pandemi Covid-19, IBL harus menghentikan kompetisi pada bulan Maret 2020," kenang Junas.

IBL mencoba untuk kembali menggelar kompetisi, namun dua kali usaha tersebut gagal karena kondisi belum memungkinkan. "Tapi kami tidak berhenti.  When every body zigs, do a zags. Jangan menunggu," tuturnya.

IBL merangkul semua pihak mulai dari klub, pemain dan pemerintah.  "Kita berikan harapan dan keyakinan dan akhirnya setelah jeda panjang, IBL akhirnya menjadi kompetisi olahraga pertama yang digelar dimasa pandemi. Kami jalankan nilai-nilai bangsa Indonesia seperti gotong royong," paparnya. 

Gotong royong bisa dilakukan kita memiliki visi misi yang jelas. "Tantangan bisa dihadapi bersama kalau kita memiliki visi, kemudian kita harus siap over time atau extra effort serta think beyond," jelasnya.

"IBL bukan sekadar kompetisi. Banyak hal terlibat baik faktor sosial maupun ekonomi," tambahnya.

Momentum kebangkitan olah raga harus menjadi pemicu. "Setelah sukses Asian Games 2018 dan Kompetisi IBL, kita juga akan menjadi tuan rumah FIBA Asia 2021 dilanjutkan menjadi tuan rumah FIBA World Cup 2023 dan bukan tidak mungkin menjadi tuan rumah Olimpiade 2032 atau 2036," tegasnya. 

Menjadi tuan rumah Olimpiade, pesta olah raga terbesar  di dunia bukan hal mustahil. "Sebuah riset menyatakan bahwa Indonesia akan masuk dalam 10 besar kekuatan ekonomi dunia pada tahu  2030, sebab pada saat itu kota akan memiliki 68 persen penduduk usia produktif," ungkapnya.