Tunda Mudik Saat Pandemik


Apr 04, 2020

JAKARTA - Sejak keputusan penundaan Indonesian Basketball League (IBL) oleh pihak penyelanggara liga pada pertengahan Maret 2020, skuad Amartha Hangtuah kembali ke Jakarta dan berdiam di mess hingga kini. Beberapa di antara pemain pulang ke rumah mereka masing-masing alias #DiRumahAja. Sisanya, tinggal bersama di hunian klub di daerah Jakarta Selatan.

Rasa rindu bersua dengan keluarga dan kampung halaman sudah tak terpikul oleh para pemain maupun ofisial. Atlet-atlet bola basket yang mengisi skuad ini datang dari berbagai kota/pulau di luar tanah Jawa, seperti Palembang, Padang, Bengkulu, Balikpapan, Samarinda, Nunukan, Sangatta, Manado, hingga Biak. Di antara para pemain, hanya Kelly Purwanto dan Aditya Lumanauw yang cukup memerlukan waktu tempuh sekitar setengah jam dari mess ke domisili mereka.

Akibat pandemi Covid-19, pemerintah terus mencari jalan keluar untuk memutus mata rantai wabah virus corona dengan mengurangi atau membatasi pergerakan orang dari satu tempat ke tempat yang lain. Muncul berbagai imbauan dari sejumlah kepala daerah dan tokoh-tokoh kepada kaum perantau di ibu kota untuk tidak mudik.

Mengacu pada imbauan pemerintah, manajemen Amartha Hangtuah pun memilih menempatkan skuadnya di mess atau rumah masing-masing. Terkecuali muncul keperluan yang sangat mendesak, diberikan lampu hijau untuk mudik. "Kami memilih untuk menghindari risiko bahaya yang mungkin terjadi saat perjalanan mudik, misalnya penularan virus ketika berada di kerumunan, atau juga risiko penularan saat berada di kampung halaman," kata Direktur Operasional Bola Basket Amartha Hangtuah Ferri Jufry. 

Tiga pekan sudah pasca-keputusan penundaan penyelenggaraan IBL 2020. Kegiatan bola basket, nihil. Ritual mudik yang sudah menjadi tradisi sedari turunan bersambung turunan, harus ditunda. Lantas apa kegiatan para pemain Amartha Hangtuah guna mengusir rasa bosan di mess? Yang paling sederhana lantaran selalu ada di genggaman yaitu mengakses fitur musik dan video game yang tersedia di telepon seluler. 

Belakangan, selain tarung "adu jempol" di PlayStation atau menonton televisi dan YouTube, drama Korea alias Drakor tayangan Netflix habis dilahap saban harinya sebelum kantuk menguasai diri. "Serial Drakor ini bisa bikin 'sakit kepala'. Bisa dimasukkan ke kategori 'racun'," seraya tertawa, Stevan Neno menamsilkan drama-drama Korea yang ditonton sejumlah pemain Amartha Hangtuah.

Untuk urusan fisik, latihan ketahanan otot dengan menggunakan fasilitas yang tersedia di mess juga menjadi konsumsi hari-hari para pemain. Selain itu, suasana tenang jalan-jalan kecil di sekitar mess dengan rimbun pepohonan yang menahan terik matahari, menambah gairah para pemain untuk melakukan jogging. Aktivitas lari ini acap kali dilakukan mereka menjelang senja hari.

"Di sekitar mess sini aja sudah cukup, nggak terlalu panas dan banyak jalanan menanjak yang lumayan membantu untuk latihan otot kaki," demikian tutur Lucky Abdi, guard berusia 23 tahun ini.

 

 

credit foto by : Amartha Hangtuah