Tak Bersua Orang Tua, Salat Id di Mes


May 24, 2020

Jakarta - Saban tahun, jauh-jauh hari sebelum memasuki bulan puasa, Amaluddin sudah terbiasa "berburu" tiket pesawat dan kapal laut. Jika ditemukan harga yang sesuai isi kocek, sudah pasti dibeli pebasket Amartha Hangtuah ini. Ongkos mahal harus dikeluarkan Amaluddin lantaran jarak tempuh serta moda transportasi laut, darat, dan udara yang ditumpangi, menuju tempat kelahiran di Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara). 

Untuk mudik, pemain bernomor punggung 31 ini terbang dari Jakarta kemudian transit sementara di Balikpapan, Kalimantan Timur, sebelum tiba di Tarakan, ibu kota provinsi Kaltara. Perjalanan kemudian dilanjutkan dari kota pelabuhan tersebut, melintasi lautan selama enam jam dengan menggunakan kapal feri ke Nunukan. Waktu tempuh dapat terpangkas separuh dengan speed boat, asalkan laut tenang. Ijin dari syahbandar belum tentu keluar kala ombak mengganas.

Rutinitas "berburu" tiket si burung besi di masa-masa serupa kerap dilakoni Luca Rimba Lioteza yang mudik ke Muara Enim, Sumatera Selatan. Begitu pula Lakha Kurniawan yang terbiasa dengan budaya silaturahmi ke kampung halamannya tersebut di Bengkulu. Biaya mudik jelang Lebaran ke Sumatera, bagi keduanya, terbilang sangat mahal meski tak harus menyeberangi lautan layaknya Amal.

Namun sejak pandemi covid-19 melanda, kebiasaan hidup berubah. Imbauan untuk tetap berada di rumah dan menjaga jarak, yang semula dilakukan lantaran terpaksa, kini menjadi bagian keseharian. Memasuki bulan puasa tiga pebasket Indonesian Basketball League (IBL) ini tetap disiplin berdiam diri di mes. Hilang sudah naluri "berburu" tiket pesawat atau kapal laut, tahun ini terpaksa absen berlebaran di daerah asal. 

"Keluarga saya di Nunukan memaklumi keputusan saya dan klub untuk tidak mudik pada Lebaran tahun ini. Kedua orang tua saya mengerti bahwa ini adalah demi kesehatan saya dan juga mereka di kampung," tutur Amal, 25 tahun.

Di mes, tiga perantau muda dari seberang pulau ini telah terbiasa sahur maupun buka puasa bersama di mes. Perbedaan menonjol di masa pandemi ini, yakni salat Id di mes, yang menurut Lakha menjadi ibadah terberat selama hidupnya sejak kali pertama belajar berpuasa di usia lima tahun. "Tahun ini memang berat, benar-benar diuji. Saya dari kecil belum pernah Lebaran nggak bersama keluarga," ungkap pebasket rookie IBL berumur 22 tahun ini.

"Di masa sulit seperti sekarang ini, banyak hal yang harus dengan rela kita korbankan untuk membantu banyak orang terhindar dari virus korona," pungkasnya.

 

 

 

Credit poto by : Amartha hangtuah