Taylor Statham Kanker Tak Bisa Menghentikannya


Dec 16, 2019

Taylor Statham sudah tak asing dengan Kota Surabaya, tempat dia  bermukim bersama klub barunya Pacific Caesar sepanjang kompetisi IBL Pertamax 2020. Taylor pernah hadir di Kota Pahlawan memperkuat CLS Knights dalam sebuah turnamen.

“Saya suka nasi goreng,” kata pria kelahiran 14 Juni 1992 ini saat sesi jumpa pers di acara IBL Expose Jumat , 13 Desember lalu. Statham memang dikenal peramah.

Jalan hidup Statham dan bola basket sangat dramatis. Secara tak langsung, bola basket menyelamatkan hidupnya. Ketika berusia 18 tahun, ketika melakukan latihan basket, pangkal pahanya terkena dengkul, Statham terguling di lapangan menahan sakit. Selangkangannya bengkak dan bertahan hingga beberapa minggu.

Statham pergi ke dokter. Dokter kemudian menemukan ada kanker di bagian vitalnya . "Mereka mengatakan jika saya datang beberapa bulan lagi atau jika saya tidak tahu, kanker itu akan menyebar ke seluruh tubuh saya," kata Statham seperti dikutip dari Larry Brown Sport. 

“Itu lucu, pelatih saya saat sekolah menengah selalu meminta saya melakukna charge alih-alih mengadang tembakan, tetapi saya tak pernah melakukannya. Saya akhirnya melakukan charge untuk bersiap menuju college dan itu menyelamatkanku,” katanya.

Setelah dua sesi kemoterapi enam minggu yang mengakibatkan rambut rontok dan berkurangnya berat badan, Statham dinyatakan bebas kanker. Tawaran dari college Divisi 1 yang menginginkan kemampuan bola basketnya juga menghilang. Statham kemudian mendapatkan kesempatan uji coba di Cal Baptist yang bermain di Divisi 2.

Statham menghabiskan berjam-jam perhari untuk menambah kemampuan bola basketnya sebelum pengobatan kankernya. Dia juga membutuhkan waktu berjam-jam agar kembali pulih setelah proses perawatan selesai. Faktanya, dia malah kembali bekerja sebelum sesi kemoterapi terakhirnya, meskipun dokternya mendesaknya untuk menunggu beberapa minggu sebelum bermain basket. Dalam keterbatasan, selama liga berjalan, Statham mencetak 25 poin, meraih 13 rebound, dan memberikan 11 assist.

"Saya terus mengatakan kepadanya untuk istirahat, dan dia terus mengatakan kepada saya untuk memasukkan dia kembali karena dia ingin bermain," kenang pelatih Statham, Jose Rodriguez, kenang. “Dia lemah, tapi dia melakukannya. Itu memberitahuku dia lapar. Sebagian besar anak-anak akan tinggal di rumah, tetapi ia sangat ingin bermain di kampus. ”

Semangat Statham diharapkan menular pada Pacific Caesar. Apalagi dia sudah paham dengan karakter bola basket Indonesia khususnya Surabaya. “Pengalaman pernah bermain di Indonesia akan membantu. Saya gembira,” ujarnya.

Bola basket Asia Tenggara memang sudah karib baginya. Statham memiliki darah Filipina, dan bermain di negeri tetangga yang merajai basket putra Asia Tenggara. Dia pernah memperkuat tim 3X3 Chooks-to-Go Pilipinas dan menjadi juara dan mewakili Filipina pada 3×3 Asia Pacific Super Quest dan FIBA World Tour Masters 2019 di Doha.