Sejarah klub :Louvre Surabaya Merajut Cerita


Jun 08, 2020

Sejarah , Rasanya kata tersebut tidak tepat untuk tim Louvre Surabaya. Karena tim ini memang tidak punya sejarah, hanya ada cerita awal berdiri, serta menjadi peserta di liga profesional Indonesia. Tidak ada latar belakang pembinaan basket, atau apapun di balik tim ini. Tetapi Louvre kini sedang merajut benang-benang cerita, yang mungkin di masa depan akan menjadi sejarah.

Sekali lagi memang harus dijelaskan bahwa Louvre bukan Siliwangi. Meskipun ada Daniel Wenas dan Kevin Moses Poetiray di dalamnya. Serta, kedatangan Louvre sesaat setelah Bogor Siliwangi meninggalkan IBL.

Pada akhir musim kompetisi 2018-2019, IBL kehilangan dua tim peserta yaitu Siliwangi dan Stapac Jakarta. Mereka berdua punya alasan yang berbeda. Di tengah keresahan penggemar basket Indonesia, IBL mengumumkan dua hal penting saat itu. Pertama, Timnas Indonesia bergabung di liga, yang belakangan disebut Indonesia Patriots. Kemudian yang kedua, Louvre Surabaya hadir sebagai tim kesepuluh di IBL 2020.

Sederet pertanyaan di benak insan basket Indonesia muncul ketika klub Louvre Surabaya diumumkan sebagai salah satu kontestan IBL 2020. Pertanyaan besarnya adalah siapa orang dibalik klub tersebut. Orang yang berani membuat klub baru dan bersaing di liga basket kasta tertinggi tanah air.

Akhirnya Erick Herlangga muncul ke permukaan. Pria yang menjabat sebagai Presiden LHG (Louvre Hotel Group), yang mengoperasikan Golden Tulip Hotel di wilayah Asia Tenggara. Dialah aktor dibalik lahirnya Louvre.

Erick tidak punya latar belakang olahraga sama sekali. Perkenalan dengan basket terjadi beberapa bulan lalu, saat melihat nasib para pemain Siliwangi. Kemudian, dia dipertemukan dengan Daniel Wenas. Dari situ dia terlecut untuk mengakuisisi Siliwangi. Penolakan datang dari berbagai pihak. Khususnya dari grup perusahaannya. Tetapi Erick tetap bersikukuh untuk membuat tim basket. Padahal ia sudah berkecimpung di e-sport.  

Louvre gagal mengakuisisi Siliwangi. Tetapi justru mereka malah bisa mendirikan klub sendiri. Erick pun mengambil langkah untuk membangun tim dari awal. 

Mulailah Erick mengambil Andika Supriadi Saputra sebagai pelatih. Ia juga memerintahkan untuk segera mencari pemain. Ditambah lagi, menyiapkan tim dalam waktu dua bulan. Sampai sekarang program ini sudah berjalan dengan baik. Beberapa pemain sudah berlatih di Surabaya sejak 1 November 2019 lalu. Mereka adalah Wendha Wijaya, Kevin Moses Eliazer Poetiray, Yurifan Honsen, Luthfianes Gunawan, Daniel Timothy Wenas, dan berhasil mengembalikan pemain legendaris CLS Knights, Dimaz Muharri. 

Tidak banyak orang di Indonesia yang mau mengeluarkan anggaran besar untuk tim olahraga. Erick untuk saat ini boleh dibilang sebagai orang yang berani melakukan itu. Ia rela mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk mendapatkan lisensi tim di liga, lalu membangun tim baru yang ikut berkompetisi di dalamnya. Erick memulai semuanya di Surabaya. Jadi apa yang dilakukan saat ini, dengan segala penolakan dari orang-orang disekitarnya, untuk membangun tim basket, sangat cocok dengan semboyan tim olahraga Surabaya. Wani! (*)