Rookie of the year 2012-2013 : Andakara Prastawa Dhyaksa, Bermain Tanpa Beban


Jun 09, 2020

"Masa Muda, Masa Yang Berapi-api..." 

Petikan lirik lagu H. Rhoma Irama ini rasanya tepat menggambarkan Andakara Prastawa Dhyaksa saat menginjakkan kakinya di liga profesional Indonesia. Prastawa mulai menjadi rookie NBL Indonesia musim 2012-2013. Bermain tanpa beban, justru dirinya menjadi tulang punggung Dell Aspac Jakarta waktu itu.

Saat masuk ke tim Aspac waktu itu, Prastawa juga menjadi fenomena baru di liga Indonesia, yaitu bapak dan anak dalam satu tim. Sebab, Aspac pada musim tersebut dilatih oleh Rastafari Horongbala. Tetapi justru ini membuat Prastawa tidak tenang dalam bermain. 

Pernah terjadi peristiwa yang menegangkan. Saat itu Prastawa melakukan turn over. Rastafari pun marah. Saking marahnya, matanya menatap tajam pemain yang tidak lain adalah putranya sendiri. Melihat kejadian tersebut, staf pelatih lain sampai ikut menenangkan pelatih senior itu. Kerasnya didikan sang ayah membuahkan hasil yang cemerlang.

Pada musim pertamanya, Prastawa bisa menorehkan catatan statistik rata-rata 15,3 PPG, dengan 3-Point 35%. Senjata andalan Prastawa yang kala itu benar-benar tajam. Menurut Prastawa ketajaman akurasi tembakan di musim 2012-2013 itu karena dirinya tampil tanpa beban. Sebagai rookie, tentu tidak punya beban berat di tim. 

Bukti bahwa masa muda Prastawa berapi-api, yaitu pernah diusir dari lapangan setelah melakukan dua unsportsmanlike-foul. Kejadian tersebut ketika Aspac bertemu Satria Muda. Prastawa mendapatkan pelajaran berharga untuk bisa mengendalikan emosi di kala menghadapi pertandingan ketat.

Saat itu memang tahunnya Aspac. Prastawa membuat kemungkinan juara semakin besar. Karena waktu itu, penghargaan individu juga dikuasai Aspac. MVP diraih oleh Pringgo Regowo, Coach of The Year 2012-2013 adalah Rastafari Horongbala, sementara Prastawa mendapatkan gelar Sixthman of The Year dan Rookie of The Year. Semua gelar itu semakin lengkap setelah Aspac menjadi juara setelah mengalahkan Pelita Jaya di final dengan skor 63-50, di GOR UNY Jogjakarta.

Setelah musim perdana yang cemerlang, Prastawa menjelma menjadi ikon Aspac. Tapi bukan hanya itu, bahkan lebih besar lagi. Dirinya menjadi wajah baru Tim Nasional Basket Indonesia. Untuk even FIBA, Prastawa bermain di FIBA Asia Cup 2014, dan SEABA Men Championship 2017 silam. Sedangkan lainnya, Prastawa juga pernah bermain di multi-event seperti SEA Games dan ASIAN Games. 

Setelah bertahun-tahun bersama Aspac, akhirnya putra pasangan Rastafari dan Julisa ini memilih meninggalkan tim yang membesarkan namanya. Prastawa justru menyeberang ke rival sekotanya, Pelita Jaya pada IBL 2018-2019. Meski kepergian Prastawa ini sempat menjadi bahan candaan. Karena ketika Prastawa pergi, justru Stapac bisa menjadi juara IBL. 

Tetapi Prastawa tidak memperdulikan candaan tersebut. Dia hanya fokus mengembangkan kemampuannya. Namun ketika ditanya tentang bagaimana penampilannya sekarang, Prastawa justru ingin kembali ke masa rookie. Sebab dirinya bisa tampil tanpa beban, dan tidak menjadi pemain yang memikul target kemenangan tim. Tetapi Prastawa tahu bahwa semakin dewasa dan matang, justru tanggung jawab di tim akan semakin besar. (*)