Pemain Terbaik: Bukti Pengabdian Ponsianus Nyoman Indrawan


May 07, 2020

Setelah 10 musim bersama klub Pelita Jaya, akhirnya Ponsianus Nyoman Indrawan pamit dari basket profesional. Komink, sapaan akrabnya, membela tim yang identik dengan warna putih-oranye tersebut untuk periode 2009 hingga 2019. Sebelumnya ia sempat bermain bersama Bima Sakti Nikko Steel pada periode 2006-2009. Tetapi salah satu momen paling besar Komink di liga nasional bersama Pelita Jaya terjadi di musim 2013-2014. Saat dirinya berhasil menyabet gelar MVP NBL Indonesia.

Sekadar flashback ke tahun-tahun manis itu. Komink menjadi bagian penting tim Pelita Jaya. Ditambah lagi, dirinya juga mengakhiri masa lajang di musim kompetisi tersebut. Paling manisnya, Komink sukses mendapatkan gelar pemain terbaik di liga. 

Pelita Jaya kala itu diasuh oleh Nathaniel Canson. Pelatih asal Filipina namun berkebangsaan Amerika Serikat. Seperti biasanya, Pelita Jaya ikut perburuan gelar juara musim itu. Apalagi sebelumnya mereka hampir saja juara. Tapi harapan harus pupus setelah kalah 50-63 dari Dell Aspac Jakarta pada Grand Final NBL Indonesia 2012-2013. Hasil tersebut membuat Pelita Jaya geregetan, sehingga musim berikutnya mereka lebih bersemangat.

Pada reguler season, Pelita Jaya finis di urutan ketiga dengan mengumpulkan 27 kemenangan dari 33 pertandingan. Prestasi tersebut juga kerena sumbangsih performa menawan Komink. Catatan statistinya adalah 12,9 PPG, 8,9 RPG, 2,4 APG, dan 2,2 BPG. Field goals Komink mencapai 54,3% dengan tambahan free throw percentage 73,5%. Menariknya lagi, Komink tampil 32 pertandingan. Ia hanya satu kali absen, bukan cedera, tapi karena rotasi pemain saja.

Performa menawan Komink membuatnya terpilih sebagai pemain terbaik. Menyingkirkan beberapa pesaing antara lain Ary Chandra dan Dimas Aryo Dewanto (Pelita Jaya), Rony Gunawan (Satria Muda BritAma Jakarta), Dimaz Muharri dan Mario Wuysang (CLS Knights Surabaya), Bima Riski Ardiansyah (Bimasakti Nikko Steel Malang), Merio Ferdiansyah (Stadium Jakarta). 

Sayangnya pada musim Komink menjadi MVP, justru Pelita Jaya tak mampu sampai babak final. Mereka tumbang dari Aspac Jakarta 58-99 di babak semifinal. Dan, harus puas berada di tempat ketiga setelah menang 76-63 atas Garuda. 

Kesetiaan dan pengabdian Komink pada Pelita Jaya terbayarkan setelah pada IBL 2016-2017. Dua tahun kemudian, Komink memutuskan pensiun. 

Komink bukan hanya sosok pemain yang disegani karena kuat di paint area saja, tetapi juga sosok yang dihormati karena kedewasaannya di lapangan. Terbukti Komink selalu jadi kapten tim, meskipun Pelita Jaya beberapa kali ganti pelatih. (*)