Menolak Lupa: Satria Muda Raih Gelar ke-10 Pada IBL 2017-2018


Apr 14, 2020

Satria Muda Pertamina Jakarta pada tahun ini 2018 lalu merayakan ulang tahun klub yang ke-25. Jadi kalau musim 2020, maka tim ini sudah berusia 27 tahun. Namun ada yang istimewa pada ulang tahun ke-25 lalu, yakni mereka berhasil mendapatkan trofi ke-10 di liga basket Indonesia. 

Catatan juara Satria Muda yaitu Kobatama (2009), IBL (2004, 2006, 2007, 2008, 2009, dan 2017-2018), NBL Indonesia (2010-2011, 2011-2012, dan 2014-2015). Bila melihat daftar tersebut, maka gelar terakhir didapatkan pada IBL 2017-2018. Musim yang manis bagi Satria Muda.

Musim 2017-2018 menjadi tahun kedua Youbel Sondakh memimpin Satria Muda. Di musim tersebut, liga diikuti 10 tim, yakni Satria Muda Pertamina Jakarta, Garuda Bandung, Hangtuah Sumatera Selatan, Bima Perkasa Yogyakarta, dan NSH Jakart yang menghuni Divisi Merah. Sementara untuk Divisi Putih dihuni oleh Pelita Jaya Energi Mega Persada Jakarta, Aspac Jakarta, Pacific Caesar Surabaya, Satya Wacana Salatiga, dan Siliwangi Bandung. Musim ini juga sekaligus jadi tahun kedua pemakaian pemain asing.

Pada IBL Draft untuk Foreign Player 2017, Satria Muda memilih Kevin Bridewaters dan Dior Lowhorn. Sejatinya kekuatan Satria Muda sudah mumpuni dengan tambahan dua pemain asing tersebut. Karena mereka masih diperkuat oleh Christian Ronaldo Sitepu. Sementara itu, di sisi point guard masih ada Hardianus, Audy Bagastyo, dan pemain rookie Christian Gunawan. 

Selama 3 seri awal, penampilan kedua pemain asing tidak mengecewakan. Dior Lowhorn selalu jadi monster di bawah ring yang kerap kali menyusahkan pertahanan lawan. Kevin Bridgewaters pun berkontribusi cukup baik dengan catatan statistk 15 PPG, 4 RPG dan 4 APG dari 7 pertandingan. Namun catatan tersebut tak lantas membuat manajemen dan jajaran pelatih puas. Bridewaters akhirnya digantikan oleh Jamarr Andre Johnson. Pemain yang sukses membawa CLS Knights Surabaya juara IBL 2016 dan menjadi Most Valuable Player (MVP). Karena saat itu status Jamarr adalah pemain naturalisasi, maka tidak ada batasan tinggi badan. 

Hasilnya, Satria Muda terlihat lebih perkasa. Untuk regular season saja, Satria Muda mencetak 15 kali menang dari 17 pertandingan. Mereka bisa mendapatkan keuntungan langsung menuju babak semifinal. Satria Muda memang lancar di regular season, tetapi di playoff, mereka terlibat persaingan sengit. Bahkan bisa dikatakan perjuangan berat harus mereka lalui sebelum mendapatkan trofi juara.

Ujian pertama Satria Muda bernama Hangtuah Sumsel. Menghadapi tim ini di Batam, Satria Muda menang 97-88. Tetapi yang mengejutkan, ketika bermain di Britama Arena Jakarta, Satria Muda justru kalah 60-69. Kondisi ini membuat penggemar Satria Muda sedikit khawatir. Namun kekhawatiran itu dijawab dengan kemenangan meyakinkan. Di laga ketiga, Satria Muda menang 78-56 atas Hangtuah.

Ujian terakhir bagi Satria Muda adalah Pelita Jaya. Pada semifinal sebelumnya, Pelita Jaya menundukkan Aspac dengan keunggulan 2-1. Pertemuan Satria Muda dan Pelita Jaya di final memang paling ditunggu-tunggu pada musim tersebut.

Mula-mula, Satria Muda mampu memanfaatkan keuntungan sebagai tuan rumah. Mereka menang 73-63 di hadapan pendukungnya sendiri, di Britama Arena. Ketika bergeser di Gelanggang Mahasiswa Soemantri pada pertandingan kedua, Satria Muda menyerah 78-94. Final pun terpaksa berlanjut ke laga penentuan. 

Di pertandingan terakhir final IBL 2017-2018 yang dipimpin wasit asal Filipina Reynaldo Yante ini, kedua tim menurunkan para pemain terbaiknya sejak awal. Pelita Jaya memasang dua pemain senior Amin Prihantono dan Xaverius Prawiro, didampingi Adhi Prasetyo, Wayne Bradford dan Chester Giles. Sementara itu, Satria Muda memainkan Hardianus, Christian "Dodo" Sitepu, Jamarr Johnson, Dior Lowhorn dan sang kapten Arki Dikania Wisnu. 

Satria Muda dominan di babak pertama dengan keunggulan 35-25. Kemudian di kuarter ketiga, Satria Muda unggul 54-42. Laga memanas di kuarter terakhir. Pelita Jaya mampu mengejar ketertinggalan. Puncaknya, ketiga dunk Wayne Bradford membuat arena bergemuruh, karena berhasil mengubah menjadi hanya berjarak tiga poin (64-67). Namun beruntung Satria Muda bisa bertahan sekaligus menambah keunggulan jadi 69-64. Skor tersebut bertahan hingga akhir laga yang membuat Satria Muda dipastikan menjadi juara IBL 2017-2018. Jamarr Andre Johnson menjadi pemain terbaik di laga final ketiga IBL 2017-2018 dengan 21 Points.

Faktanya, dua pemain asing yaitu Jamarr Johnson dan Dior Lowhorn menjadi penyumbang points dan rebound terbanyak bagi Satria Muda sepanjang musim 2017-2018. Lowhorn mencatat rata-rata 24,3 PPG dan 11,1 RPG, sementara Jamarr mencatat 14,5 PPG dan 9.3 RPG.

Benar-benar sebuah musim kompetisi yang manis bagi Satria Muda. Mereka pun bisa mencatat sejarah dengan 10 kali juara selama 25 tahun berkiprah di basket Indonesia. 

Nantikan kisah juara selanjutnya di iblindonesia.com. (*)