IBL Pertamax 2020 : Menjawab Keraguan


Apr 03, 2020

Wabah Covid-19 membuat semua kompetisi olahraga di seluruh dunia berhenti. Termasuk pesta olahraga bangsa-bangsa, Olimpiade Tokyo 2020. Bahkan liga basket kasta tertinggi di tanah air, Indonesian Basketball League (IBL) musim 2020. Namun sembari mematuhi anjuran pemerintah, ada baiknya kita kembali mengingat perjalanan musim ini yang dinamis.

Dimulai dari tidak hadirnya dua klub peserta, yakni Bogor Siliwangi dan Stapac Jakarta. Dua klub yang punya cerita berbeda kedua klub, mewarnai awal musim IBL. 

Bogor Siliwangi musim 2018-2019 diperkuat bintang-bintang basket Indonesia seperti Daniel Timothy Wenas dan Kelly Purwanto. Disayangkan manajemen terlilit masalah keuangan. Hingga akhirnya, penyelenggara liga memutuskan untuk mencabut lisensinya. Namun demikian, menjelang dimulainya persiapan liga, permasalahan dapat diselesaikan dimana hal utama pada saat itu adalah membantu para pemain agar dapat melanjutkan karir-nya di bola basket dengan menyelesaikan kontrak bersama Siliwangi. Para pemain ex-Siliwangi menjadi lirikan para klub-klub yang sedang berburu pemain untuk memasuki musim 2020.

Stapac Jakarta sebagai juara bertahan memilih mundur dari IBL. Kondisi ini mengagetkan IBL Fans di seluruh Indonesia. Mengingat Stapac punya basis penggemar yang cukup banyak di tanah air.

Keputusan mundurnya Stapac karena mereka mendukung program pemusatan latihan jangka panjang timnas Indonesia. Sebagian besar pemain Stapac saat ini menjadi pemain timnas. Beberapa solusi sempat dibahas bersama untuk mencari jalan keluar bersama namun dengan berat hati Stapac tetap dengan keputusannya, namun IBL harus tetap berjalan.

Seiring berjalan waktu, IBL menerima dua peserta baru. Peserta pertama adalah Indonesia Patriots. Tim yang menjadi bagian dari program pemusatan latihan jangka panjang timnas Indonesia menjadikan peta kompetisi IBL menjadi semakin menarik dan tentunya berhadapan dengan tim-tim IBL menjadi suatu hal yang baru.

Tim berikutnya adalah Louvre Surabaya. Tim debutan sekaligus tim kejutan. Louvre langsung merekrut bintang-bintang basket nasional seperti Daniel Wenas, Galank Gunawan, Wendha Wijaya, bahkan mereka diperkuat legenda hidup CLS Knights Surabaya, Dimaz Muharri. Louvre menjadi fenomena baru di IBL musim ini.

Komposisi 3 pemain asing yang baru diterapkan di musim ini di setiap klub peserta menimbulkan intensitas rasa penasaran dari para IBL fans. Ditambah, musim yang biasanya dilakukan di akhir tahun, yakni November, diubah menjadi awal tahun yakni Januari untuk memastikan eksposure dan intensitas liga tidak banyak terhenti karena banyaknya agenda kalendar libur.

Berawal dari keraguan, karena kehilangan tim, justru IBL menjawabnya dengan inovasi  dan menghadirkan laga-laga yang seru. Dibuktikan sejak awal kompetisi dimulai bulan Januari, seluruh tim sudah langsung saling mengalahkan. IBL juga mampu menjawab keraguan dengan kompetisi yang ketat. 

Tunggu cerita-cerita dan fakta menarik berikutnya seputar IBL musim ini.