IBL Pertamax 2020: Menata Ulang Prawira


Apr 13, 2020

IBL Fans khususnya pendukung Prawira Bandung jelas bergembira ketika diumumkan bahwa Giedrius Zibenas asal Lithuania menjadi pelatih baru. Lengkap dengan Marius Jasevenicus sebagai pelatih fisik. Duet pelatih asing tersebut sukses mengantar Stapac Jakarta juara IBL 2018-2019. Tetapi yang terjadi, justru Prawira sempat terpuruk di dasar klasemen IBL Pertamax 2020.

Tim Prawira terlihat meyakinkan di awal musim. Komposisi tim sebelumnya juga tidak boleh dianggap remeh, karena ada Diftha Pratama, Surliyadin, Januar Kuntara, Hans Abraham, M. Reza Guntara dan pemain-pemain muda lainnya. Mereka pun kedatangan tiga pemain baru, yaitu Arif Hidayat dan Firman Dwi Nugroho. Dua pemain yang jadi bagian dari tim juara ABL 2018-2019, CLS Knights Indonesia. Tambahan lainnya adalah M. Dhiya'ul Haq yang pindah dari Satria Muda Pertamina Jakarta. 

Di laga pertama yang seharusnya jadi debut manis, malah tumbang atas Louvre Surabaya, 79-81. Kemudian Pawira menang atas Amartha Hangtuah 92-69 di laga kedua. Sayangnya, Prawira seperti menaiki roller coster yang tiba di turunan tajam. Mereka kalah enam laga beruntun. Ini yang membuat tim terpuruk dan menghuni dasar klasemen IBL.

Pertanyaan besar muncul yakni ada apa dengan skuad Prawira. Namun di tengah gejolak ini, Giedrius Zibenas tampak tenang. Sebab, inilah fase yang harus dilalui Prawira saat ingin membenahi tim. 

Kalau kata mantan pelatih Garuda Bandung musim 2016, Fictor Gideon Roring, itu adalah fase storming. Nantinya ada fase norming, dan selanjutnya performing. 

Ternyata memang benar. Setelah gejolak berlalu. Perlahan Prawira menata diri dengan baik. David Samuel dan Dimitri Cook digantikan oleh Marquel Beasley dan Glen Thomas Burns. Sedangkan William Tinsley tetap in dipertahankan. Akhirnya pada dua seri terakhir, Kediri dan Surabaya, Prawira bisa menambah pundi-pundi kemenangan. Mereka mencetak rekor pertandingan 4-9 sebelum ada penundaan liga. Prawira pun menduduki peringkat delapan klasemen sementara.

Soal performa, Prawira mencetak total poin rata-rata 74,5 PPG. Total rebound di kisaran 42,6 RPG dan total asis per pertandingan di kisaran 14,3 APG. Salah satu yang belum muncul dari tim Prawira adalah akurasi tembakan tiga angka. Padahal penggemar Prawira ingin melihat kecerdikan strategi Giedrius Zibenas yang bisa menciptakan ruang terbuka untuk melepaskan tembakan. Sayangnya akurasi tembakan pemain Prawira di kisaran 24,6 persen saja. 

Prawira saat ini ada di fase performing. Mereka sudah menunggu lama untuk bisa mengejutkan IBL Fans. Bila tidak ada wabah Covid-19, bisa jadi Prawira benar-benar jadi kuda hitam di IBL Pertamax 2020. 

IBL Fans, khususnya penggemar Prawira berharap tim kesayangannya bisa menunjukkan kemampuan terbaik di lanjutan IBL nanti. Apalagi bila langsung ke babak playoff. 

Nantikan cerita menarik lainnya di iblindonesia.com. (*)