Ibl Legends:Patrick Andreas Gosal Pernah Lakukan 12 Steal Saat Lawan Aspac


Jul 18, 2021

 

Mengawali latihan basket di klub The Young Manado di usia 16 tahun setelah sebelumnya hanya menyalurkan hobi basket di seolah, Patrick Andreas Gosal nekat merantau ke Jakarta untuk bergabung dengan Pelita Jaya.

“Setelah Kejurnas Junior , saya balik dulu ke Manado untuk selesaikan studi baru berangkat ke Jakarta,” kenangnya.  Saat kejurnas junior, Patrick satu tim dengan Fictor “Ito” Roring. “Ito adik kelas saya di SMA Negeri 7 Manado, dia dilirik lebih dahulu oleh Pelita Jaya,” tuturnya. 

Tahun 1991, Patrick sudah bergabung dengan tim Pelita Jaya untuk Kobatama, level tertinggi kompetisi basket Indonesia kala itu. “Pelatihnya adalah coach asal Filipina, Nath Canson,” ujarnya.

Dua musim bersama Pelita Jaya, Patrick kemudian hijrah ke Indonesia Muda pada tahun 1993. Di IM, terciptalah legenda Three Muskeeters bersama Raymond Manuhutu dan Lucky Richard Pinontoan. Trio ini memiliki kecepatan dan ketajaman yang sangat ditakuti lawan-lawan mereka.

Patrick bersama Indonesia Muda hingga tahun 2000. Setelah itu dia direkrut klub Dwidasa Mitra pada tahun 2001 rekan-rekan klubnya saat itu diantaranya adalah Romy Tanaka, Bintoro, Andre Posumah dan Yuliadi Runtiarko.  “Hanya semusim bersama Dwidasa, tetapi sangat berkesan.   Saat turnamen Kobatama di GOR Soemantri Brodjonegoro saya mendapatkan dua penghargaan sebagai Best Assist dan Best Steal,” kenangnya.

Yang paling berkesan adalah ketika menghadapi tim tangguh Aspac, Patrick mampu melakukan 12 kali steal. “Itu rekor steal terbaik saya. Lebih bangga lagi lawannya adalah Aspac yang diperkuat sebagian besar pemain nasional,” paparnya. Aspac kemudian menjadi juara turnamen tersebut.

Performa menawan Patrick membuat Pelita Jaya kembali menawarinya bergabung pada tahun 2002. Hanya saja waktu itu Pelita tampil dengan nama Kalila. Cuma semusim Patrick di Kalila. “Saya cedera di telapak kaki dan terasa mengganggu sehingga saya memutuskan mundur,” katanya.

Mundur sebagai pemain, Patrick tidak meninggalkan bola basket. Dia beralih peran menjadi pelatih. Tahun 2004 dia membawa tim Universitas Atmajaya menjadi juara Liga Basket Mahasiswa DKI Jaya. Salah satu mantan pemain Atmajaya adalah Maulana Fahreza Tamrella alias Mocha yang kini menjadi manajer tim nasional putra Indonesia.

Ada satu kenangan ketika Mocha melakukan buzzer beater di final. “Sebelumnya, Mocha saya tarik keluar. Para pemain dan penonton sempat heran dia ditarik keluar, tetapi saya punya strategi khusus buat dia di menit akhir dan akhirnya berhasil. Mocha sendiri tidak menduga dia akan menjadi penentu,” ungkapnya.

Patrick juga sukses membawa tim putri Perbanas menjadi juara Libama Nasional dan tim Mahaputri menjadi juara Kobanita. Ada cerita menarik saat final Libama 2008 melawan Universitas Surabaya. Sejak seri pertama Libama, andalan Perbanas Wulan Ayuningrum cedera.

Saat final, sebenarnya Wulan sangat ingin dimainkan, namun sebelumnya Patrick dan Wulan bertemu boss Mahaputri Erick Thohir dan Ito yang saat itu menjadi Direktur Operasional bola basket. Mereka  menginginkan Wulan sehat saat Kobanita bergulir di tahun sama. “Mahaputri saat itu bertekad menjadi juara tujuh kali untuk melewati rekor CLS,” tuturnya. “Wulan sendiri sampai menangis menyatakan keinginan bermain di final,” sambungnya.

Patrick putar otak. Akhirnya dia memutuskan Wulan untuk tetap memakai kostum pertandingan dengan kaki dan tangan dibalut serta melakukan pemanasan sebelum final. “Namun, dia tidak saya mainkan dan kami akhirnya menjadi juara. Strategi ini mengecoh pelatih lawan yang sudah membuat game plan dengan Wulan bermain,” jelas Patrick. Sukses pun berlanjut, Wulan bisa bermain di Kobanita dan Mahaputri menjadi juara untuk ketujuh kalinya sebelum tim ini dibubarkan.

Patrick hingga kini tetap berkecimpung di dunia basket. Dia menjadi salah satu pelatih di Fictor Roring Basketball Academy.

Ket Foto : Bawah duduk kedua dari kiri

 

Credit Foto :Tjandra Amin