IBL LEGENDS:Karsiman, slam dunknya Ditunggu Penonton


Jul 04, 2021

Karsiman adalah salah satu peraih Perbasi Award 2020. Dia adalah pemain nasional Indonesia pada era 1976 hingga 1983. "Saya seangkatan William Cheng dan Nus Lalisang," tutur Karsiman yang kini berusia 63 tahun.

"Saat itu bangga sekali bisa membela Merah Putih tanpa memikirkan uang saku," ujar pria bertinggi 185 cm dan dimasanya bermain sebagai center. Lewat bola basket membawa nama bangsa, Karsiman bisa melanglang buana diantaranya ke Filipina, Kuwait, Singapura dan beberapa negara lainnya. "Mungkin ada  lima kali saya ke Singapura," ungkapnya. 

Sejak kecil, Karsiman sudah akrab dengan basket. "Saya tinggal di SMP Negeri 2 Bandung. Setiap hari ketemu lapangan basket dan main basket," kenangnya.

Usia SMP, Karsiman bergabung dengan klub Esco Bandung. Bakat dan kemampuan membawanya masuk dalam tim PON Jawa Barat. "Saya ikut serta dalam empat PON sejak 1977 hingga 1989," katanya.  Saat itu belum ada pembatasan usia dalam cabang bola basket untuk berlaga di Pekan Olahraga Nasional. 

Masa itu, Karsiman sudah mampu melakukan dunk, hal yang masih langka pada jamannya. "Kalau Jabar bermain, penonton cukup banyak. Mereka menunggu saya melakukan dunk," ungkapnya. 

Ketika Kobatama bergulir di tahun 1982, Karsiman direkrut tim Kobatama dari Bandung, Tarumatex.

Bakat dan kemampuan bola basket Karsiman rupanya menurun pada sang keponakan, Antonius Ferry Rinaldo, salah satu point guard legendaris Indonesia yang kini menjadi pelatih.

"Usia TK, Inal juga selalu ikut ke lapangan. Waktu itu dia bermain dengan bola tenis, sementara ruangnya adalah kaleng susu kental yang dilubangi dan digantung," cerita Karsiman. Satu pemain seusia Inal yang juga kerap bertemu di lapangan adalah Joan Suryana, mantan point guard tim nasional putri Indonesia.

Karsiman masih mengikuti perkembangan bolabasket Indonesia. "Sekarang postur pemain tinggi-tinggi.  Setinggi saya tak bisa lagi menjadi center," pungkasnya.