IBL Legends : Cokorda Rai Adi Pramartha Bekal Semangat dari Basket Membantunya Menjadi Doktor


Jan 31, 2021

Cokorda Rai Adi Pramartha( jersey aspac no 17 ) adalah satu dari tiga bersaudara Cokorda yang akan selalu dikenang pecinta bola basket Indonesia. Tata, sapaannya, adalah adik dari Cokorda Raka Satrya Wibawa alias Wiwin, dan kakak dari Cokorda Anom Indrajaya. 

Cokorda bersaudara mengawali karier bola basket profesional mereka di Aspac. Wiwin bergabung lebih dulu pada pada tahun 1995, setahun kemudian, 1996 Tata menyusul. Anom  mendarat di Aspac pada 1997.  Mereka juga  bermain untuk Bali pada PON 1996. 

 “Sebelumnya, selain Aspac, klub CLS dan Pelita Jaya juga pernah menghubungi kami, namun sepertinya sudah beredar kabar burung bahwa kami hanya mau ke Aspac,” kenang Tata. “Juga beredar kabar kalau sudah mendapatkan kakaknya (Wiwin) maka adik-adiknya pasti mengikuti,” tambahnya. 

Tata mengakui mereka bertiga memiliki ikatan dan saling memahami jika bermain bersama. “Kami merasa memiliki spesialisasi dan posisi masing-masing. Wiwin sebagai center, saya di posisi power forward dan Anom adalah shooter,” ujarnya.

Tahun 2001, Cokorda bersaudara memutuskan tetap bersama hijrah ke Satria Muda. Tahun berikutnya mereka bertiga bergabung dengan Citra Satria hingga 2005. Tahun 2006, Tata dan Anom kemudian memutuskan pensiun dari bola basket professional, sementara Wiwin meneruskan karier basket dan bergabung dengan Garuda Bandung. “Setahun kemudian, 2007, pelatih Garuda menghubungi dan meminta saya bergabung, namun saya sudah memutuskan berkarier di dunia pendidikan,” kata

Tata yang sudah menyelesaikan Pendidikan S1 Teknik Elektro Universitas Trisakti dan Master in Bussines Administration Universitas Bina Nusantara memutuskan pulang ke Bali, karena imbauan orang tuanya. “Mereka bilang, kalau bukan  kamu, siapa lagi yang akan mengembangkan orang-orang Bali. Saya pun luluh dan memutuskan kembali,” terangnya.

Tata pun memutuskan mendaftarkan diri menjadi dosen pengajar  jurusan Ilmu Komputer Universitas Udayana pada tahun 2006. 

Dunia akademis memang taka sing bagi keluarga Cokorda. Mereka adalah putra pasangan Dr. dr. Tjokorda Alit Kamar Adnyana danProf. Dr. dr. Luh Ketut Suryani, Sp.KJ . 

Tata terus berusaha mencari beasiswa studi doktoral. Sebagai dosen dia harus terus mengejar pendidikan tertinggi. "Saya mengambil program doctor karena merupakan jenjang tertinggi dalam dunia pendidikan dan karier saya. Sama halnya saat bermain bola basket, maka tujuan tertinggi kita adalah sampai mewakili Indonesia,” tutur Tata yang sempat masuk dalam tim nasional junior Indonesia pada tahun 1996.

Tata berhasil diterima di salah satu perguruan tinggi di Australia, Sydney University untuk menempuh program doctor Teknologi Informasi. Awal tahun 2014 dia berangkat ke Australia.  “Beruntung  pada 2013 Kementerian Keuangan RI meluncurkan beasiswa perdana mereka, yaitu beasiswa LPDP yang sangat mementingkan kualitas kuliah dibanding biaya yang harus dikeluarkan. Beasiswa itu memberangkatkan saya pada awal ke Australia," kata Tata. Dia meraih gelar PhD alias doktor pada tahun 2018, kini Tata menjabat sebagai Asisten Profesor pada Departemen Ilmu Komputer Universitas Udayana Bali.

Dia mengakui, bekal dari bola basket membantunya  dalam pencapaian prestasi di luar lapangan. “Spirit berjuang di lapangan basket terbawa dalam kehidupan. Di basket, hari ini kita kalah, besok harus kembali siap bertempur 100 persen untuk menang. Itu terbawa dalam perjalanan hidup saya,” akunya.

“Contohnya, saat mengambil program PhD di Australia, satu hari saya sempat gagal, tetapi esoknya sudah semangat lagi. Supervisor saya sampai salut, sebab jarang punya mahasiswa S3 yang pantang menyerah,” ceritanya.

Berkarya di dunia pendidikan, Tata tak sepenuhnya meninggalkan bola basket. Dia adalah pembina Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Bola Basket Universitas Udayana. 

Tak ingin jadi pelatih? “Waktunya tidak memungkinkan. Paling saya hanya jadi pelatih buat anak sendiri. Putra sulung saya sekarang berusia 12 tahun, tinggi sudah  169 cm,” kata Tata yang dikaruniai tiga orang putra dari pernikahannya dengan Madek Jeani Purnama. 

Tata mengakui skill pebasket Indonesia saat ini jauh lebih baik dibanding jamannya. “Hal ini karena akses informasi yang lebih terbuka seperti lewat you tube. Pemahaman pelatih-pelatih muda juga lebih baik, serta banyak juga pelatih yang memberikan privat sehingga kemampuan basket anak-anak sekarang lebih cepat meningkat,” ungkapnya.

Apalagi skill pemain sekarang juga tidak dibatasi oleh struktur dan postur tubuh. “Jaman saya main, pemain berpostur tinggi pasti dipasang sebagai power forward atau center,” pungkasnya.