Welcome Home ,Dimaz Muharri


Dec 23, 2019

Pada pertengahan bulan Januari 2016 silam, beredar sebuah surat terbuka yang membuat sedih penggemar basket Indonesia. Surat tersebut ditulis oleh Dimaz Muharri, yang menyatakan sudah mundur dari CLS Knights Surabaya pada bulan Desember 2015, serta pensiun dari basket profesional. Sejak pengumuman tersebut hingga sekarang, Dimaz bekerja sebagai pelatih di DBL Academy. Namun beberapa waktu lalu tim baru Louvre Surabaya mengumumkan bahwa mereka akan diperkuat Dimaz Muharri pada IBL 2020. 

Pemain kelahiran Binjai, 17 September 1985 tersebut terjun ke liga profesional pada tahun 2007. Saat itu ia bermain untuk CLS Knights Surabaya. Disaat bersamaan, klub asal Surabaya tersebut tengah membuat tim baru di bawah pengelola Chistopher Tanuwidjaja. Dimaz pun perlahan menjelma sebagai ikon sekaligus bintang klub tersebut.

Di era NBL Indonesia, Dimaz semakin bersinar. Dalam lima musim (NBL Indonesia) ia mencetak 1347 poin, 987 rebound, 862 asis, dan 598 steal. Dimaz tercatat tiga kali menerima gelar Top Steal (2010–2011, 2012–2013, 2013–2014). Penampilan apiknya pada musim 2013–2014 juga diganjar dengan gelar Top Assist. Dia juga sudah membukukan seribu poin, serta menjadi garda pertama di NBL Indonesia mengumpulkan seribu rebound sejak era NBL Indonesia hingga pra-musim IBL 2015.  

Dimaz Muharri pensiun dini karena ia ingin dekat dengan keluarga. Tetapi ia tidak berhenti bermain basket. Dimaz menjadi pelatih DBL Academy, sembari sesekali bermain di turnamen-turnamen lokal. 

"Betul sekali. Dimaz Muharri akan bersama kami untuk IBL 2020," kata pemilik Louvre, Erick Herlangga.

Pengalaman Dimaz di liga profesinal tidak diragukan lagi. Namun, keraguan justru dari fisiknya. Dimaz sudah tidak bermain di liga profesional sejak 2016. Perlu waktu untuk mengembalikan performanya seperti sedia kala. 

"Dimaz merupakan sosok tepat bagi tim kami, yang terhitung masih sangat baru. Dia akan menjadi penyeimbang saat kami berlaga di liga nanti. Sama halnya seperti tugas yang saya berikan pada Wendha Wijaya dan Daniel Wenas. Di samping itu, Dimaz punya penggemar yang besar. Pemain bertalenta dan punya jam terbang tinggi. Saya cocok dengan karakter Dimaz baik di dalam dan luar lapangan," ucap Andika Supriadi Saputra, kepala pelatih Louvre.

 

 

 

credit photo  : Louvre Surabaya