Rebutan Tiket Play Off Tersisa di Yogyakarta


Feb 14, 2019

GOR UNY Yogyakarta akan jadi penentu siapa perebut tiket play off tersisa IBL Pertamax 2018-2019. Seri kedelapan alias seri pamungkas babak regular akan digelar di sana 14-17 February.

Tiga tiket sudah dipastikan pemiliknya. NSH Jakarta yang kini memimpin klasemen Divisi Merah sudah mendapatkan tempat babak play off. Tapi kami masih ingin jadi juara divisi agar bisa langsung menuju babak semi-final, kata pelatih NSH, Wahyu Widayat Jati.

Juara divisi memang berhak langsung menuju babak semi-final. Lawan mereka di semi-final adalah pemenang play off antara peringkat dua dan tiga di divisi mereka yang akan bertanding dengan format best of three.

Dua pesaing NSH di Divisi Merah, Bank BPD DIY Bima Perkasa dan Satria Muda Pertamina masih pula memiliki peluang menjadi juara divisi jika mampu menyapu bersih tiga pertandingan terakhir mereka. Sementara Hangtuah dan Prawira mengintip peluang menuju play off. Keduanya tak boleh kalah, sambil berharap Satria Muda dan Bima Perkasa tersandung dalam tiga penampilannya,

Maka, laga Prawira vs Hangtuah di Sabtu dan Hangtuah vs Bima Perkasa di Minggu akan sangat krusial.

Di Divisi Putih, tinggal satu tiket tersisa. Stapac sudah memastikan diri menjadi juara divisi diikuti Pelita Jaya di tempat kedua. Sesungguhnya sejak di Malang, posisi play off sudah kami dapat tetapi kedua tim tetap bermain serius, begitu pula nanti di Yogyakarta, kata pelatih Pelita Jaya, Fictor Gideon Roring.

Tiket terakhir akan jadi rebutan Pacific Caesar Surabaya. Satya Wacana dan Bogor Siliwangi. Laga Pacific Caesar melawan Satya Wacana akan menentukan nasib mereka.

Siliwangi bisa menyalip jika mereka mampu memenangkan tiga pertandingan tersisa melawan Hangtuah, Bima Perkasa dan Pelita Jaya dengan catatan Pacific tak memenangkan satu pertandingan pun di Yogyakarta. Bila nilai Siliwangi dan Pacific sama, tim asal Surabaya yang berhak ke babak play off karena unggul dalam head to head.

Peluang kami berat menuju play off, aku pelatih Siliwangi, Paul Mario Watulingas.