Rachmad Febri Utomo dan Pengalaman Berharga


Feb 03, 2021

Rachmad Febri Utomo sudah pernah merasakan asam-garam liga basket profesional Indonesia. Dia bahkan sempat bermain di kompetisi luar negeri, sebelum akhirnya berlabuh ke Bank BPD DIY Bima Perkasa. Febri memang belum berniat pensiun meski usianya sudah tidak muda lagi. Namun kesempatan ini harus dimanfaatkan oleh pemain muda Bima Perkasa untuk menimba ilmu dari salah satu pemain basket tercepat di Indonesia.

Febri punya pengalaman kurang menyenangkan dengan tim yang bubar. Sebab, dirinya sudah tiga kali merasakan hal tersebut. Febri dulu adalah pemain Bhinneka Solo di era IBL. Kemudian tim tersebut bubar karena kesulitan keuangan. Bhinneka lantas bergabung dengan Stadium. Namun beberapa pemain memilih tidak ikut ke Jakarta, salah satunya Febri. Dia justru pindah ke Surabaya membela CLS Knights, bahkan hingga 12 tahun lamanya.

CLS Knights yang sempat jadi juara ASEAN Basketball League (2018-2019) malah bubar. Mereka tidak ikut lagi, bahkan secara tim juga dibubarkan. Sampai akhirnya, CLS Knights bergabung dengan tim amatir asal Surabaya, BBM, untuk membetuk BBM CLS Knights Indonesia dan berlaga di Thailand Basketball Super League (TBSL) 2020. Ironisnya, liga tersebut berhenti karena pandemi Covid-19 dan timnya pun bubar. 

Meski perjalanan kariernya berliku, namun prestasinya di basket memang luar biasa. Febri pernah juara IBL 2016 bersama CLS Knights dan ABL 2018-2019 dengan performa yang menawan. Pada musim 2018-2019, dia tampil 22 laga dari total 37 pertandingan CLS Knights, dengan rataan 1,7 PPG, 0,4 RPG, dan 0,7 APG. 

Kepastian Febri berlabuh ke Bima Perkasa menyudahi semua spekulasi yang bermunculan mengenai kelanjutan karier pemain berjuluk "Mr. Clutch" ini. Selain Bima Perkasa, Febri memang sempat dikaitkan dengan beberapa klub kontestan IBL. 

Kembali menyorot performa Febri di IBL. Febri bisa dibilang pemain yang berbahaya dalam skenario fast-break. Kecepatannya sampai sekarang masih mumpuni meski usianya sudah berkepala tiga. Bila diingat kembali, pada era NBL Indonesia 2014-2015, Febri sempat mencetak 8,0 PPG dari 31 penampilan, dengan field goals 42 persen. Saat itu liga Indonesia belum menggunakan jasa pemain asing, dan Febri belum berpengalaman di liga luar negeri. Bayangkan bila dirinya yang sudah semakin berpengalaman, kembali tampil di IBL 2021 nanti. Ini sangat menarik untuk disaksikan.

Berdasarkan pengakuan pemilik Bima Perkasa, merekrut Febri bukan hanya sekedar untuk meningkatkan performa tim saja. dr. Edy Wibowo ingin agar Febri menjadi contoh bagi pemain muda di timnya. Langkah tersebut sangat tepat, karena Febri adalah idola anak basket Jawa Tengah dan Jogjakarta, semasa masih bermain di Bhinneka. Secara komunikasi, suasana pasti lebih cair, sehingga transfer ilmu bisa lancar.

Bima Perkasa sendiri punya pemain yang juga punya kecepatan dalam menyerang. Mereka adalah Nuke Tri Saputra dan Indra Muhammad. Kebetulan keduanya pernah bermain di Surabaya. Jadi ini keuntungan juga bagi Bima Perkasa yang bisa menyatukan mereka. Pengalaman Febri akan sangat berguna untuk tim Bima Perkasa ke depan. Tapi target paling dekat yaitu membuat tim ini kembali tampil di Play-Off. (*)

 

 

Credit Foto : Dedy Loy