Merio Ferdiansyah dan Pertaruhan Predikat Masa Lalu


Jan 26, 2021

Sangat mudah menemukan kisah-kisah mengenai kehebatan seorang Merio Ferdiansyah. Di halaman pemberitaan internet juga disebutkan bahwa Merio adalah seorang "Monster Poin" di liga basket Indonesia. Namun kini, saat dirinya kembali ke liga profesional, Merio dituntut untuk bisa membayar ekspektasi IBL Fans. Khususnya bagi mereka penggemar basket yang baru. Sebab, mereka akan berharap Merio bisa menunjukkan kepiawaiannya dalam mencetak poin, meski di usia yang sudah tidak muda lagi.

Merio Ferdiansyah lahir di Sukabumi, 5 Juli 1985. Meski tingginya hanya 180 centimeter, tapi soal urusan mencetak angka, Merio jagonya. Predikat "Monster Poin" didapatkan Merio saat berlaga di NBL Indonesia. Merio bisa mencetak 2.337 poin hanya dalam 161 pertandingan. Kalau di rata-rata, dia bisa mencetak 14,5 poin setiap kali bermain. Merio juga jadi pemain pertama yang mencapai 2.000 poin di gelaran NBL Indonesia. Ini salah satu catatan yang ditulis dengan tinta emas.

Tetapi Merio menghilang seiring berhentinya NBL Indonesia. Bisa juga dikatakan sebelum NBL selesai, Merio sudah mengalami masalah dengan kondisi tubuhnya. Merio mengalami cedera otot paha kanan di pra-musim NBL 2014-15. Cedera itu didapatkan saat menjalani latihan. Awalnya tidak terlalu parah, namun karena dipaksa terus berlatih akibatnya fatal. Merio absen selama turnamen pra-musim.

Tahun 2015, jadi tahun paling mengecewakan bagi Merio. Pada bulan Februari 2015, dia mendapat serangan penyakit hepatitis A. Penyakit itulah yang membuatnya absen hingga akhir musim. Merio kembali memperkuat Stadium Jakarta di IBL 2016.

"Tahun 2016, setelah berpisah dengan Stadium Jakarta, saya vakum total dari dunia basket karena mulai bekerja di Semarang. Kemudian,  dua tahun lalu kembali ke Jakarta, dan aktif lagi di basket. Kali ini bersama West Bandits," ungkap Merio. 

West Bandits bisa dibilang tim amatir yang naik kasta. IBL meluluskan keinginan mereka untuk jadi kontestan baru di liga profesional mulai tahun ini. Sehingga, mau tidak mau mereka harus menyusun kekuatan agar bisa bersaing dengan 11 kontestan lainnya. 

West Bandits sebenarnya punya komposisi tim kombinasi senior-junior yang bagus. Ada nama Andre Adrianno, Casiopeia Thomas Manuputty, Widyanta Putra Teja dan sederet pemain muda lainnya. Kemudian ada pemain yang bisa dikatakan senior seperti Fadlan Minallah dan Pringgo Regowo. Lalu, Merio datang, yang bukan hanya sebagai pelengkap saja. Merio dianggap sebagai pusat perhatian di West Bandits. 

Predikat sebagai "Monster Poin" memang layak disematkan padanya. Karena sepanjang penjalanannya di liga profesional sejak 2010 hingga 2016, Merio selalu mencetak rata-rata poin double digit. Yang terbanyak di musim 2013-14, di mana Merio mencetak 18,0 PPG dalam 33 pertandingan. Lalu pada musim 2014-15, sebelum dia tumbang karena penyakitnya, Merio masih bisa mencetak 12,0 PPG dalam 16 pertandingan. Dari catatan-catatan tersebut tentunya IBL Fans penasaran, bagaimana penampilannya di musim 2021. 

Merio harus berjuang untuk meyakinkan IBL Fans bahwa masih ada sisa-sisa kejayaan masa lalu yang bisa ditunjukkan. Namun yang paling penting, Merio bisa membawa West Bandits bisa bersaing dengan kontestan lain di musim pertamanya. Soal siapa yang menjadi eksekutor di lapangan, semua tentu jadi kewenangan pelatih. Apalagi, West Bandits baru saja mengganti pelatih. Jap Ricky Lesmana kini jadi asisten pelatih, sementara arsitek utama alias pelatih kepala kini diberikan kepada Raoul Miguel Hadinoto. (*)