IBL Pertamax 2020: Tiga Pemain Asing


Apr 05, 2020

Indonesian Basketball League (IBL) sebagai liga tertinggi di tanah air mendukung program PP Perbasi untuk percepatan peningkatan kualitas basket Indonesia. Salah satunya memberikan tempat untuk tim pemusatan latihan jangka panjang, yang kini bernama Indonesia Patriots, untuk ikut berkompetisi di liga musim 2020. Namun untuk penyetaraan kualitas tim, maka ada keputusan untuk menambah jumlah pemain asing menjadi tiga orang.

Kekuatan tim-tim kontestan liga tereduksi ketika pemain terbaiknya dipanggil timnas. Risiko ini harus diambil demi basket Indonesia yang lebih baik. Tetapi kekuatan liga juga harus seimbang, karena ada tim dengan pemain terbaik di Indonesia jadi salah satu pesertanya. Akhirnya diputuskan menambah jumlah pemain asing, namun dengan syarat yang lebih ketat.

Liga memutuskan tiap tim, kecuali Indonesia Patriots, bisa mengambil tiga pemain asing. Tetapi yang boleh bermain di lapangan hanya dua pemain. Sementara untuk batasan tinggi badan, tidak boleh lebih dari 2 meter. 

Inovasi baru ini membuat liga lebih berwarna. Sebab semua pelatih punya pandangan sendiri-sendiri mengenai aturan tersebut. Satya Wacana Salatiga contohnya. Mereka memilih untuk mengambil tiga pemain forward. Louvre Surabaya berbeda strategi, mereka mengambil dua guard dan satu center. Pacific Caesar Surabaya mengambil dua forward dan satu center. Dan, masih banyak lagi pilihan-pilihan tim yang beragam, dan membuat liga semakin menarik untuk disimak.

Bila dipandang dari sudut peningkatan kualitas pemain lokal, justru di musim 2020 bisa dikatakan banyak pemain lokal yang bisa step-up. Sebut saja di tim Pacific Caesar Surabaya. Tiga pemain asing bermain di dalam, artinya menguasai paint area. Oleh sebab itu, pemain lokal harus mampu bermain sebagai guard yang mumpuni. Sebut saja Yerikho Tuasela yang kini jadi pilihan utama pelatih David Singleton. 

Berbeda juga dengan cerita NSH Jakarta. Mereka punya dua pemain forward dan center, lalu ada satu guard. Ketika guard dan center yang bermain, maka pemain lokal mengisi posisi shooter dengan baik, seperti Lutfi Koswara. Atau, ketika Antonius Ferry Rinaldo memainkan forward dan center asing, maka Widyanta Putra Teja mendapatkan peran sebagai pengatur serangan. 

Masih banyak lagi cerita seputar peningkatan kualitas pemain, justru dengan tiga pemain asing di dalam tim tersebut. Tetapi faktanya, dan semua pelatih tim IBL menyetujui, bahwa tim yang bisa memangkan pertandingan adalah tim yang punya kontribusi dari pemain lokal. Dalam artian, pemain lokal menjadi faktor penentu di liga ini. Bukan hanya mengandalkan pemain asing saja.

Tunggu fakta-fakta menarik lainnya seputar IBL Pertamax 2020. (*)