IBl Legends: Ateng Sugianto Jago Tembak dari Pacific Caesar


Nov 07, 2021

Ateng Sugianto (jersey no12) boleh didapuk sebagai salah satu legenda bolabasket Indonesia. Dia adalah raja tembakan tiga angka pada masanya. Ateng adalah juara three point contest dua kali berturut-turut pada Kobatama 1994 dan 1995. Ketika itu, Kobatama adalah level tertinggi kompetisi bolabasket semiprofesional Indonesia sebelum berganti nama menjadi IBL.

“Tahun 1996, saya berniat mempertahankan gelar juara three points untuk ketiga kalinya, namun semalam sebelum acara All Stars Kobatama digelar di Jakarta waktu itu, ada kabar orangtua saya meninggal. Jadi saya harus balik ke Surabaya dan batal mempertahankan gelar,” cerita Ateng.

Menariknya, saat pertama kali merebut gelar juara three points contest pada tahun 1994, di final Ateng berhadapan dengan Johannis Winar yang ketika sama-sama menjadi pemain Banjar Utama adalah junior Ateng. Di babak penyisihan, nilai Winar lebih tinggi, namun di babak final dia harus menyerah dari seniornya, Ateng Sugianto.

“Ateng adalah senior yang menggembleng saya sehingga menjadi shooter andal. Tiap  saya harus memasukkan beberapa ratus bola dari tembakan tiga angka. Saya beruntung mendapat senior seperti dia,” kata Ahang, sapaan Winar, suatu ketika.

“Ah, bukan saya saja, semua senior di Banjar Utama memang menggembleng juniornya, termasuk Ahang,” tutur Ateng merendah ketika dikonfirmasi soal tersebut. 

Sejak kecil Ateng sudah bergelut dengan bola basket. “Saat kecil saya sempat ikut CLS dan klub binaan Ayah saya sendiri, Darmo Grand,” kenangnya. Ateng kemudian direkrut Halim Kediri Junior pada tahun 1985 di usia 17 tahun.

“Saat itu Halim adalah klub yang diisi banyak pemain nasional seperti Lie Gwan Ming, Lie Gwan Chin, Yugianto Kuntarjo dan Li Tjui Tek dan lain-lain. Saya harus menunggu cukup lama, baru pada tahun 1987 saya bisa masuk roster Halim untuk Kobatama,” tuturnya.

Berada di Halim hingga tahun 1989, Ateng kemudian pindah ke Banjar Utama Banjarmasin bersama diantaranya adalah Go Ing Djung dan Filix Bendatu. Tahun 1992, Ateng hijrah ke Pacific Caesar hingga pensiun sebagai pemain pada tahun 2001.

Pensiun sebagai pemain, Ateng tetap berkecimpun di olahraga bola basket. Dia memilih jalur sebagai pelatih. Tahun 2002 dia dipercaya memegang Bhinneka Solo Junior. Setahun kemudian, pelatih kepala Bhinneka Kobatama saat itu Eddy Santoso, kini almarhum, memintanya menjadi asisten pelatih. Ateng pun menerima dan menjadi asisten pelatih Bhinneka di ajang Kobatama hingga 2004.

Tahun 2007 Ateng kemudian menjadi pelatih kepala Bhinneka  pada level Kobatama. Hanya semusim di Kobatama, Ateng kemudian kembali ke Surabaya.

Ateng terus berkecimpung di dunia pembinaan bola basket selain tetap bermain pada kelompok veteran “Saya sekarang menjadi pelatih di SMA IPH School Surabaya,” akunya.

Ateng tetap mengikuti perkembangan bolabasket nasional termasuk IBL. “Bagus IBL menambah jumlah klub dengan hadirnya empat klub baru. Ini akan membuat semakin banyak talenta basket muda yang bisa diserap,” pujinya.

Ateng melihat banyak potensi pebasket muda yang bisa berkembang walau dia juga memberikan kritikan. “Fundamental basket rata-rata saya nilai masih kurang. Latihan dasar harus dilakukan sejak awal buat para pemain usia dini,” katanya.

Pelatih-pelatih dan mantan-mantan pemain senior harus banyak yang terjun menangani pembinaan skill dasar para pemain muda tersebut. “Anak-anak sekarang mungkin terbiasa melihat pemain-pemain NBA di Youtube dan langsung coba menirunya sebelum memiliki skill fundamental bolabasket,” kritiknya.