Bung Ridwan Menilai Tak Semata Berdasarkan Statistik


May 08, 2021

Statistik memang menjadi salah satu acuan , tetapi tidak mutlak menjadi penentu penilaian pemain terbaik pada setiap kategori. Itulah cara yang dilakukan Bung Ridwan, salah satu analis basket yang akan menjadi voter pada IBL Pertamax Award 2021.

“Kalau kita hanya berdasarkan pada statistik, justru akan membuat lubang-lubang dalam penilaian,” kata Ridwan. Dia mencontohkan misalkan ada dua pemain sama-sama memiliki average 20 poin per game setelah dua pertandingan. Pemain pertama konsiten mencetak 20 angka pada setiap pertandingan, sementara pemain lain pada gim pertama scoreless, baru mencetak 40 poin pada penampilan keduanya. “Sama-sama memiliki average, tetapi pemain yang konsisten lebih layak menjadi yang terbaik,” ujarnya.

“Pemain yang konsisten dalam setiap pertandingan menunjukkan dia pemain yang giat berlatih dan mempersiapkan mental, fisik dan kondisi dengan baik,” tambahnya.

Ridwan memiliki data setiap pertandingan IBL. Pada akun media sosial Bung Ridwan, dia selalu menampilkan tujuh kandidat pemain terbaik yang dia sebut The Magnificent Seven dan kemudian dia pilih satu Most Valuable Player.

Mengulik statistik, mengumpulkan data dan melakukan Analisa sudah menjadi bagian dari pekerjaan Ridwan sebagai komentator bola basket. “Statistik dan data adalah bagian tugas dan tanggung jawab tak terpisahkan bagi saya sebagai komentator,” jelas Ridwan.

Sebagai komentator sejak Kompetisi IBL 2015, Bung Ridwan selalu ingin memberikan info akurat kepada pemirsa tentang gim, tim-tim yang bermain dan para pemainnya. 

Ridwan juga merilis channel you tube Telekomentator. “Channel you tube itu baru ada saat pandemi musim lalu. Ketika Kompetisi IBL 2020 berhenti, saya masih memiliki beberapa pertanyaan yang belum sempat disampaikan kepada para pemain, tokoh dan stakeholder basket Indonesia. Kebetulan juga pandemi membuat harus bekerja dari rumah, sehingga ada waktu menggarap saluran youtube tersebut,” paparnya.

Ridwan mengaku hanyalah penggemar bolabasket biasa. “Saat kuliah kami bersahabat dengan Hasan Gozali, dan ketika dia memegang IBL Reborn 2015-2016 saya diminta membantu, saya siap membantu sesuai keahlian dan kuliah saya, yakni broadcast,” pungkasnya.