Andre Yuwadi, Menjawab Keraguan dan Terus Berkembang


Aug 31, 2020

Andre Yuwadi adalah salah satu pelatih muda yang kualiasnya sudah terbukti di liga Indonesia. Andre juga salah satu pelatih yang mengawali karier bukan dari jalur pemain. Dirinya, sudah pernah memimpin tim seperti Stadium Jakarta dan Garuda. Kini Andre bertugas mengawal tim Prawira Bandung.

Andre awalnya diragukan sebagai pelatih. Ia berangkat dari pelatih fisik dan terbuang dari CLS Knights Surabaya. Andre akhirnya head coach Stadium Jakarta di separuh akhir perjalanan pada musim reguler NBL Indonesia 2014-2015. Andre berhasil menghalau suara-suara sumbang dan keraguan banyak pihak terhadapnya. Momen yang paling diingat adalah Andre sukses memimpin Stadium mengeliminasi Aspac Jakarta pada playoff di Hall Basket Senayan, Jakarta.

Andre memulai kiprahnya di NBL Indonesia pada 2011. Lulus dari Beijing Sports University, Andre menjadi asisten Wan Amran di CLS saat musim pertama NBL pada 2010-2011. Hampir lima musim berada di sana, Andre bekerja dengan empat pelatih. Hingga akhirnya dia dilepas CLS. 

Karena tidak mendapat ''pekerjaan'', dia menerima pinangan Stadium Jakarta untuk menggantikan asisten pelatih Freddy Marcos Gorey. Namun, di tengah perjalanan, Stadium tidak lagi memakai jasa Tri Adnyanaadi Lokatanaya sebagai pelatih. Andre lantas ditunjuk jadi arsitek Stadium yang baru. Meski terseok-seok lolos ke playoff untuk menempati posisi kedelapan, Stadium secara luar biasa bisa menembus semifinal dengan mengalahkan juara bertahan. 

Lalu, Andre kembali memimpin Stadium di IBL 2016. Mereka berhasil melaju ke play-off, namun kalah dua kali melawan Aspac Jakarta. 

Pada 5 November 2016, Andre Yuwadi berpamitan dengan tim Stadium Jakarta. Ini merupakan keputusan yang diambilnya sendiri. Saat itu, Stadium berencana merger dengan Aspac, dan membuat tim bernama Stapac. Andre tidak ikut dalam skenario tersebut.

Tak lama berselang, tepatnya pada 16 November 2016, Andre Yuwadi mengunggah logo Garuda Bandung di akun instagram pribadinya. Unggahan itu sekaligus menegaskan bahwa dirinya secara resmi bertugas sebagai pelatih Garuda Bandung. Saat itu, manajemen Garuda tidak melanjutkan kontrak dengan Fictor Gideon Roring atau Coach Ito. Sebab manajemen tidak menemukan kesamaan visi dan misi dengan coach Ito. 

Kali ini kerjasama Andre dengan Garuda berlangsung lama. Bahkan, hingga mereka berubah nama menjadi Prawira Bandung. Andre dikenal sebagai sosok yang baik di kalangan pemain. Mungkin karena usianya masih muda. Tetapi karena pengalamannya dianggap kurang, maka pada IBL 2020, posisi Andre diturunkan jadi asisten pelatih. Mendampingi Giedriuz Zibenas yang didatangkan dari Lithuania. Pelatih yang sukses membawa Stapac juara IBL 2018-2019. 

Masa pandemi ini menyulitkan semua tim. Pelatih asing dan pemain asing sepertinya tidak akan ikut melanjutkan kompetisi musim ini. Tetapi bagi Prawira, kesulitan itu sudah teratasi. Tidak hadirnya Giedrius bukan masalah besar. Mereka masih punya Andre Yuwadi. Pelatih yang siap menjawab keraguan, serta kini semakin berkembang. (*)