Sejarah Klub Pacific Caesar Surabaya: Tim Berusia Lebih Dari Setengah Abad


May 15, 2020

Pacific Caesar Surabaya merupakan salah satu klub basket tertua di Indonesia. Setelah sempat terseok-seok di liga basket profesional Indonesia, kini mereka menjadi salah satu klub yang menjanjikan. Eksistensi Pacific Caesar sebagai klub basket juga tak perlu diragukan lagi, karena mereka sudah lebih dari setengah abad. 

Klub Pacific berdiri pada tahun 1968. Tepatnya pada tanggal 8 mei 1968 sebagai klub amatir. Pacific didirikan oleh Bambang Susanto sejak usia 17 tahun, dan berlajut mengelola klub ini hingga sekarang. Impian Pak Bambang dalam mendirikan Pacific sebenarnya sederhana. Dia ingin mendirikan sebuah sekolah basket untuk anak muda, dan sekarang Pacific sudah lengkap sebagai klub. Punya tim profesional, pembinaan yang berjalan seiring, serta GOR sebagai fasilitas penunjang utama. 

Perjalanan Pacific dalam kompetisi basket profesional dimulai tahun 1992 di Kompetisi Basket Utama (Kobatama). Selain Pacific saat itu ada tim asal Jawa Timur juga yakni Golden Hand dan Halim Kediri. Setelah berjalan sekian lama, Pacific menyatakan berhenti dari liga selama satu dekade (2000-2010). 

Mereka sempat mencoba peruntungan di Premier Basketball League (PBL). Pada PBL musim 2010-2011, Pacific menjadi runner-up. Pacific pun akhirnya kembali ke kasta tertinggi bola basket tanah air. 

Pacific mulai tampil kembali di kancah basket nasional tepatnya pada NBL Indonesia 2011-2012. Tapi selama empat tahun keikutsertaannya, Pacific selalu gagal mendapatkan hasil positif. Pacific selalu menghuni papan bawah klasemen di musim reguler. Berbagai cara dilakukan Pacific untuk meningkatkan prestasi, seperti mengganti pelatih. Pacific pernah dipoles oleh pelatih asal Filipina, Arturo Lozada Cristobal. Lalu di musim berikutnya (2012-2013) mereka dipimpin oleh Eddy Santoso. Kedua pelatih ini bergantian menangani Pacific di dua musim selanjutnya. Namun yang terakhir membesut Pacific di NBL Indonesia 2014-2015 adalah Arturo Lozada Cristobal. 

Pada IBL 2016, Pacific Caesar tampil dengan wajah baru. Coach Bai (Arturo Lozada Cristobal) tak lagi menjadi pelatih kepala. Pacific ditangani sendiri oleh Bambang Susanto yang notabene juga sebagai pemilik klub. Suk Fuk -panggilan akrabnya- kala itu didampingi oleh asisten pelatih, almarhum Hari Suharsono. Hasilnya sama saja, Pacific Belum mendapatkan hasil maksimal . Karena mereka tampil dengan wajah-wajah baru pemain muda. 

Performa Pacific meningkat tajam saat di era IBL 2017. Mereka diuntungkan dengan kebijakan liga yang memasukkan dua pemain asing. Manajemen Pacific sangat jeli memilih pemain. Mereka mendapatkan guard asal Amerika Serikat, David Seagers, dan forward dari Kanada, Kevin Loiselle. Keberadaan mereka berhasil membawa Pacific meloncat ke papan atas, sekaligus untuk pertama kalinya Pacific bisa tampil di babak playoff. Bisih sebagai pelatih juga masuk nominasi Coach of The Year IBL 2016. Sayangnya mereka gagal melanjutkan langkah setelah kalah dua laga di babak playoff dari Aspac Jakarta.

Prestasi gemilang ditunjukkan Pacific dua musim beruntun setelahnya. Mereka masuk playoff di IBL 2017-2018, bahkan bisa sampai ke semifinal di IBL 2018-2019. Pacific bukan lagi tim yang jadi bulan-bulanan di liga. Mereka kini menjelma jadi salah satu kekuatan besar basket Indonesia. Orang-orang mungkin melihat prestasi Pacific beberapa tahun terakhir. Namun sejatinya Pacific adalah tim besar, dengan sejarah panjang dan prestasi yang membanggakan. Bulan ini, Pacific merayakan ulang tahun ke-52. (*)