Ray Sutanie Tak Masalah Tinggalkan Bandung


Dec 23, 2020

Setiap pemain pasti ingin membela klub asal kotanya masing-masing. Namun bila kesempatan itu belum datang, maka tidak masalah meninggalkan kampung halaman untuk mengejar mimpi tampil di liga profesional. Itulah cerita dari Timotius Ray Sutanie. Pemain baru Pacific Caesar Surabaya yang diambil dari IBL Rookie Draft 2020 Putaran Pertama. 

"Surabaya panas," kata Rey, tentang kesan pertamanya di Kota Pahlawan. "Kebetulan ada keluarga di sini. Jadi waktu kecil sudah sering berkunjung ke Surabaya."

Rey mengaku senang dia diambil oleh Pacific Caesar yang bisa membuka jalannya ke profesional. Sebab, bila mengandalkan Prawira Bandung, dia tidak akan punya kesempatan. Prawira, menurut Rey, memang jadi idaman anak basket Kota Bandung, seperti dirinya. Tapi di sisi lain, anggota tim Prawira sudah terlalu banyak. Bahkan ada pemain yang tidak bisa masuk roster karena saking banyaknya pemain.

Dari situ, alumni ITHB tersebut kini fokus mengejar kariernya dimulai dari Surabaya. Bukan di tim dari kota asalnya. Rey akan menyusul beberapa alumni ITHB lainnya yang sudah tampil di IBL, seperti Jan Misael Panagan, Kaleb Ramot Gemilang, Reza Fahdani Guntara, Nikholas Mahesa, Januar Kuntara, dan Randika Aprilian. 

"Target saya di tahun pertama ini tidak muluk. Saya ingin membantu tim sesuai dengan keinginan pelatih dan tim butuhkan. Itu saja sudah menjadi kebanggaan bagi saya," katanya.

Rey mengawali basket sejak kelas 3 sekolah dasar. Saat itu dia bergabung dengan klub Tunas di Bandung. Sampai akhirnya pada tahun 2014, Rey memutuskan pergi setelah mewakili Kabupaten Bekasi di PORDA 2014. 

Rey termasuk lima pemain baru Pacific Caesar. Rey diambil dari putaran pertama dalam draft, kemudian di putaran kedua, Pacific mengambil Calvin Chrissler. Setelah itu, Pacific juga menyebut tiga nama pemain yang masuk lewat jalur rekomendasi yaitu Andreas Kristian Vieri, Agung Jaya Kusuma. 

Pacific musim depan akan tampil dengan wajah-wajah baru. Mereka tidak lagi diperkuat oleh Yerikho Christpor Tuasela, Indra Muhammad, dan M. Hardian Wicaksono. (*)

 

Credit Foto :Wisnu Raditya