Memandang IBL dari Sudut yang Berbeda


May 15, 2021

Direktur Utama Indonesia Basketball League (IBL) Junas Miradiarsyah, bercerita soal sudut pandang mengelola kompetisi dari mantan pemain. Ada banyak hal yang dipelajari Junas saat diberi tanggung jawab memimpin kompetisi basket tertinggi Tanah Air ini.

Junas mulai menjabat Direktur Utama IBL menggantikan Hasan Gozali pada 2019. Tak pernah terbesit dalam benak Junas sebelumnya untuk memegang tanggung jawab sebesar ini.

“Sebenarnya tidak pernah terbayang. Jangankan saat masih jadi pemain, ketika bekerja pun tidak berpikir bisa mengelola liga basket. Berbeda sekali, kalau jadi pemain ‘kan fokus untuk gim, untuk tidak cedera,” ujar Junas.

“Kalau pengurus liga ‘kan banyak. Bagaimana bikin kompetisi menarik, penonton puas, marketing, dan sponsor. Banyak yang harus dipikirkan sebagai pengelola,” imbuhnya.

Dalam perjalanannya memimpin IBL, Junas mengalami berbagai rintangan. Yang tersulit tentu pandemi Covid-19.

IBL Pertamax 2020 terpaksa dihentikan akibat pandemi Covid-19. Adapun IBL Pertamax 2021 harus dilangsungkan dengan sistem gelembung.

Situasi kahar ini membuat Junas harus mencari solusi terbaik. Protokol kesehatan ketat kemudian disusun agar IBL Pertamax 2021 bisa berjalan.

“Pertama kali membuat sistem bubble meraba-raba. Kami lihat sistem dari WHO, FIBA, Perbasi. Kebetulan waktu itu NBA juga mulai ‘kan. Kami banyak adaptasi dari situ, kami pelajari. Secara prinsip bisa berjalan di mana pun. Kebetulan di Jakarta ada Kelapa Gading yang punya fasilitas mumpuni untuk menjalankan konsep bubble. Tak ada revisi karena sistem ini belum ada yang menjalankan. Secara konsep, mereka percaya sistem ini cukup bagus,” ujar Junas.

“Secara teori seharusnya bisa menekan kegiatan di area tersebut agar tidak terpapar Covid-19. Tinggal bagaimana praktik dari konsep di atas kertas,” imbuh Junas.

Fase pertama IBL Pertamax 2021 pada akhirnya bisa berjalan mulus di Robinson Resort, Cisarua, Jawa Barat. Meski berjalan dengan situasi tak biasa, ada beberapa hal yang bisa dipetik.

“Ada hikmahnya juga, kemarin terbentuk rasa kekeluargaan. Mungkin, kalau tidak ada pandemi ini, belum tentu bisa terjadi suasana tersebut.

Semua bisa merasakan ini sesuatu yang kami perjuangkan bersama. Semua ini tujuannya satu, memajukan basket Indonesia,” ujar Junas.