Ibl Legends: Fidyan Dini Tak Boleh Terjun ke Bulutangkis, Sukses di Bolabasket


Sep 26, 2021

Meski memiliki warisan darah bulutangkis dari sang ibunda, Verawaty Fajrin, Fidyan Dini (no 12) tak terjun ke dunia tepok bulu yang mengantar Verawaty meraih kejayaan, diantaranya menjadi juara dunia tahun 1980. Yandi, sapaan sang putra memilih berkarier di dunia bolabasket.

“Ibu tak mengijinkan saya menjadi atlet bulutangkis. Kasihan, latihannya berat banget katanya,” cerita Yandi.  “Saya melihat sendiri program latihan ibu, ditambah cerita dari beliau. Memang berat banget . Saya juga baca program latihan fisiknya dari almarhum Tahir Djide dan Pak Paulus Pasurney, lebih berat dibanding basket,” tuturnya.

Sang Ibu, legenda bulutangkis Indonesia, kini terbaring sakit dan telah mendapatkan perhatian dari pemerintah via Kemenpora. Menteri BUMN, Erick Thohir juga sempat menjenguk dan memberikan dukungan kepada Verawaty.

“Saya sempat ngobrol lama dengan Pak Erick. Kami mengucapkan atas semua dukungan yang datang. Ibu kini kondisi stabil dan telah  diambil tindakan Cryotherapy,” ungkapnya.

Tidak mengikuti jejak sang Ibu, Yandi pun memilih bola basket. Dia cukup bersinar dan menapak jalan panjang di bola basket professional. Pria kelahiran Banjarmasin 21 Mei 1983 ini pertama kali terjun ke professional di era akhir Kobatama bersama klub Citra Satria tahun 2002 dan berlanjut saat kompetisi mulai menggunakan nama IBL di musim kompetisi 2003-2004.

Tahun 2004 pula Yandi membela tim DKI Jakarta dan sukses meraih medali emas Pekan Olahraga Nasional (PON) 2004. 

Tahun 2005 dan 2006, Yandi membela klub Indonesia Muda pada Kompetisi IBL tahun tersebut. Kalila kemudian menjadi persinggahan berikutnya di tahun 2007-2008. Pada tahun 2009, Pelita Jaya merekrutnya. Yandi bersama Pelita Jaya hingga tahun 2014, sebelum bergabung dengan Aspac pada musim kompetisi 20015. Hangtuah kemudian menjadi klub terakhir Yandi pada musim Kompetisi 2017-2018.

Yandi juga sempat memperkuat tim nasional Indonesia pada FIBA Asia 2009  dan 2011. “Tapi pada FIBA Asia 2011 saya tak ikut main karena cedera,” paparnya. Yandi juga sempat mengikuti pelatnas SEA Games 2011 Jakarta, tapi gagal terpilih masuk tim inti. 

Jalan orang tua dan anak memang tak selalu sama, tetapi warisan semangat olahragawan dari Ibunda tetap dibawa Yandi ketika berkarier di bolabasket. Yandi cukup bersinar di cabang olahraga pilihannya.

 

 

Credit Foto:NBL Indonesia