Ibl Legends: Dwui “Iboy” Eriano Berawal dari Guntur, jadi Legenda Satria Muda


Sep 13, 2020

Dwui  “Iboy” Eriano tak pernah melupakan momen dia mendapatkan tanda tangan Ali Budimansyah di tahun 1994 . “Saya juga mendapatkan karangan bunga yang dia lempar ke penonton, tepat jatuh di saya. Kayak kawinan gitu,” kenang Iboy.

Barangkali itu adalah pertanda Iboy akan mengikuti jejak Budi, berlatih di klub Mitra Guntur. “Tahun 1995, teman saya Pahala mengajak saya berlatih di Guntur. Saya pun ikut.Ketika itu pas libur semester kelas 1 SMA,” tutur Iboy.

Ada cerita lucu, awal berlatih di Guntur, Iboy sempat kesal mendapat kritikan terus menerus dari pinggir lapangan dari seseorang. “Ternyata dia adalah Tjetjep Firmansyah,” kata Iboy sambil tersenyum. Tjetjep adalah seorang pelatih legendaris, kakak kandung Ali Budimansyah.

Di Guntur, Iboy ditangani pelatih Jacky Ignatius Hatta. Bakat besar, postur tinggi dan kemauan kuat dalam latihan membuat karier bola basket Iboy cukup cepat melesat. Tak sampai setahun berlatih, dia dipanggil masuk tim PON 1996 DKI Jakarta yang ditangani Bambang Hermansyah, juga kakak kandung Budi. Namun, Iboy harus rela bekerja keras.

“Prosesnya memang cepat, tetapi saya harus rela menjalani rute Cibubur- Bulungan setiap hari,” katanya. Saat itu Iboy memang tinggal di Cibubur. “Rutenya setiap hari adalah jam 8-10 pagi latihan di Guntur, kemudian balik Cibubur untuk sekolah jam 12 siang sampai jam 5 sore, kemudian latihan tim PON di Bulungan jam 20-22, habis latihan balik lagi ke Cibubur ” ceritanya. Di tom PON 1996 juga ada Ali Budimansyah .

Para pemain PON yang berasal dari Jakarta Timur jalan bareng bersama ke Bulungan. “Saat itu dari Jakarta Timur ada saya, WahyuWidayat Jati, Agustinus Dapas Sigar dan Charles Bronson. Pemain putrinya Puspa Indah Pamungkassari,” papar Iboy.

Tahun 1996 pula Iboy bergabung dengan Satria Muda yang berlaga di level tertinggi bola basket nasional saat itu, Kobatama. Iboy setia dan menjadi legenda Satria Muda hingga dia pensiun sebagai pemain di tahun 2008. Seusai pensiun pun dia masih sempat menjabat sebagai manajer tim Satria Muda. 

Iboy masuk dalam tim inti yang sukses membawa Satria Muda juara Kobatama 1999, padahal setahun sebelumnya berada pada peringkat 10. Gelar juara berikutnya diraih bersama Satria Muda pada IBL 2004, 2006, 2007.

Tahun 2008, Iboy sudah tidak bermain di IBL. Sia sempat bermain untuk sebuah turnamen di Penang Malaysia, sebelum memutuskan berhenti. 

Iboy kemudian  menjadi asisten pelatih coach Fictor Roring.  Tahun 2009 dia menjadi manajer tim Satria Muda berlaga di IBL dan ABL.

"Saya tidak boleh langsung keluar oleh Pak Erick Thohir, suruh bantu tim dulu.  Malah ditawari untuk main hingga 2009," tuturnya.

Dia juga masuk dalam daftar tim nasional untuk pertamakalinya merebut medali perak di SEA Games 2001 Kuala Lumpur Malaysia.

Prestasi dan kesetiaan membuat Iboy layak dinobatkan sebagai legenda Satria Muda.

 

 

Credit Foto : Satria Muda.id