Ibl Legends : Denny Sumargo Berawal dari Karate dan Sepakbola Akhirnya Jadi Legenda Basket


May 31, 2020

Bola basket bukanlah cabang olahraga pertama yang digeluti Denny Sumargo. Dia bahkan termasuk telat mengenal olahraga ini ketika memasuki bangku Sekolah Menengah Atas.”Olahraga pertama saya adalah karate,” katanya. Di olahraga beladiri ini, Denny sudah berhak memakai sabuk biru. Bahkan dia dipersiapkan untuk mengikuti sebuah kejuaraan. “Saya sempat di latih Arief Taufan Syamsuddin,” kenang Denny. Arief Taufan adalah peraih medali emas Asian Games 1998. Sayang, Denny kemudian hijrah ke cabang sepakbola. Di cabang olah raga populer ini dia sempat memperkuat PSM Jr. “Posisi saya striker, senang adu sprint dengan bek lawan, bahkan saya sempat menjadi top scorer PSM Jr,” ceritanya. Jalan hidup Denny berubah ketika dia mengenal bola basket. “Awalnya susah sekali memasukkan bola ke jaring,” akunya. Bukannya patah semangat, Denny malah penasaran. Dia bertekad untuk bisa jago bermain bola basket. Denny bergabung dengan klub Viking Makassar. “Saya bergabung dengan Viking, namun bisa juga berlatih bersama klub lain di Makassar, Flying Wheel dan Sahabat,” paparnya. 

Bakat besar dan kerja keras membuat Denny terpilih memperkuat tim PON Sumsel menuju Pekan Olahraga Nasional 2000 Bakatnya dilihat pemilik Aspac, Irawan Haryono, namun sayang dalam kejuaraan tersebut, Denny sempat terlibat perselisihan dengan pelatihnya di lapangan sehingga Irawan sempat kehilangan respek dan tak lagi menghubungi Denny.

Lulus SMA, Denny berniat melanjutkan kuliah namun kondisi ekonomi keluarga saat itu  tidak memungkinkan. Dia  kemudian teringat janji Irawan mengajaknya bergabung. Dia nekat berangkat ke Jakarta. “Saya hubungi Pak Irawan, dan saya baru tahu beliau kecewa dengan saya karena melawan pelatih saat itu. Saya memohon diberi kesempatan selama tiga bulan dan berjanji tak akan melakukan perbuatan mengecewakan,” cerita Denny. Beruntung Irawan mau memberi kesempatan.

 Denny berusaha keras. Dia menambah sendiri jam latihan di luar latihan resmi Aspac. Hal ini diketahui oleh pelatih Aspac, Tjetjep Firmansyah. “Coach Tjetjep tanya saya, apa tujuan main saya jadi pebasket. Saya jawab ingin jadi yang terbaik,” ungkap Denny. “Coach Tjetjep kemudian tanya lagi, bagaimana caranya? Saya jawab, itu tugas pelatih untuk menjadikan saya lebih baik, saya tinggal mengikuti,” sambungnya.

Tekad dan usaha keras Denny mengikuti latihan Aspac berbuah. Ketika mendapatkan kesempatan , Denny memanfaatkannya dengan baik. Dia menunjukkan permainan cemerlang.Akhirnya bersama Aspac dia menjadi juara dan dinobatkan sebagai rookie of the year 2001. Tahun sama dia pun terpilih masuk tim nasional Indonesia dan terus berlanjut hingga berlanjut hingga tahun 2007. Denny bersama Aspac hingga tahun 2004 dan menjadi juara IBL 2003. Dia memutuskan hijrah ke Satria Muda namun harus beristirahat selama setahun untuk pemulihan cedera. Bersama Satria Muda dia menjadi juara IBL 2006 dan 2007.

Total Denny enam kali menjadi juara kompetisi nasional tertinggi. Tiga kali terpilih sebagai Most Valuable Player, dua kali menyandang the best defender dan sekali menjadi juara kontes slam dunk.

Sayang, di tahun 2007 dia tak terpilih untuk SEA Games 2007 akibat selisih paham dengan coach Fictor Roring . Setelah menjadi juara IBL 2007, Denny memutuskan pindah ke Garuda Bandung. Dia berhasil membawa Garuda menjadi juara turnamen IBL 2008, namun gagal menjadi juara kompetisi setelah di babak final kalah dari Satria Muda.

Pria kelahiran Luwuk, 11 Oktober 1981 ini memutuskan pensiun sebagai pemain basket pada usia 28 tahun dan terjun ke dunia entertaintment.  Denny telah tercatat sebagai legenda bola basket Indonesia, para penggemar basket Indonesia pasti merindukan penampilannya di lapangan. “Saya sudah jarang menyaksikan pertandingan basket, namun saya punya konten you tube “Pebasket Sombong” mengundang para pemain,” tuturnya. “Sumbangan saya buat b ola basket Indonesia adalah membantu publikasi lewat channel you tube tersebut,” tuturnya.