IBL Legend : Muhammad Isman Thoyib, Dua Gelar IBL dengan Dua Tim Berbeda


Jul 26, 2020

Kalau dilihat dari catatan IBL dalam lima musim terakhir. Ada tiga nama pemain yang pernah menjadi juara IBL, dengan dua tim yang berbeda. Pertama adalah Jamarr Andre Johnson yang juara IBL 2016 bersama CLS Knights Surabaya, dan juara IBL 2017-18 bersama Satria Muda Pertamina Jakarta. Lalu pemain kedua adalah Kaleb Ramot Gemilang yang juara bersama CLS Knights Surabaya (IBL 2016) dan Stapac Jakarta pada IBL 2018-19. Nah, lalu ada lagi satu pemain veteran yang pernah mencetak prestasi yang sama dengan Kaleb, yaitu Muhammad Isman Thoyib.

Thoyib mengawali karier di basket profesional pada tahun 2003. Aspac menjadi tim yang memakai jasanya sejak tahun 2003 hingga tahun 2014. Memang, Thoyib keluar-masuk klub. Karena pada tahun 2010, ia diangkat sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) dari Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Tengah. Lebih tepatnya, bertugas di Program Pemusatan Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLOP). Itu adalah badan yang mengurus pembinaan atlet prestasi. 

Karena tugas tersebut, maka tahun 2014, selepas Aspac juara NBL Indonesia 2013-14, Thoyib pensiun. Setelah semusim absen, Thoyib muncul kembali di IBL 2016 (IBL Reborn) bersama CLS Knights. Saat itu, CLS Knights dipimpin oleh sahabatnya, Wahyu Widayat Jati yang menggantikan Kim Dong Won di kursi pelatih kepala. 

Saat itu, Thoyib tampil cemerlang. Thoyib memang tidak diminta berperan sebagai pencetak poin. Justru saat itu, Wahyu Widayat Jati memintanya untuk menjadi penjaga paint area dari serangan lawan, sekaligus mendapatkan bola rebound. Hasilnya, Thoyib menjadi faktor penting keberhasilan CLS Knights menjuarai liga. Di musim reguler ia mencetak 4,0 PPG, 6,0 RPG, dan 0,8 APG.

Setelah juara, Thoyib mengilang lagi. Ia muncul setelah dua musim. Kali ini tampil di IBL Go-Jek Tournamen 2018 di Solo bersama Stapac Jakarta. Thoyib secara khusus diminta Kim Hong -pemilik Stapac- untuk membantu timnya. Karena saat itu Stapac belum punya center lokal. Seperti yang kita tahu, turnamen itu tidak memainkan pemain asing, hanya lokal saja. Justru yang terjadi, Stapac malah mampu menjuarai turnamen tersebut.

Berlanjut ke musim kompetisi 2018-19. Thoyib tampil all-out, tidak terlihat seperti pemain veteran. Bahkan pengorbanan selama beberapa bulan tidak pulang ke rumah, terbayar dengan gelar juara. Di musim reguler ia mencetak 0,3 PPG, 2,1 RPG, 0,13 APG, lalu di playoff ia menyumbang 0,2 PPG, 1,2 RPG, 0,2 APG. Thoyib memainkan peran yang luar biasa di bawah asuhan pelatih Giedrius Zibenas. 

Sebenarnya ada satu cerita menarik di balik keberhasilan Thoyib. Sebenarnya dirinya tidak mau lagi bermain basket. Apalagi di liga profesional. Thoyib ingin terjun di kepelatihan, seperti yang pernah ia lakukan saat menjadi asisten Sahabat Semarang di liga putri. Tetapi, Thoyib berani kembali ke profesional karena mendapatkan izin dari Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Karena dirinya patuh dan taat kepada atasannya sebagai abdi negara. 

Oleh sebab itu, ketika Ganjar Pranowo memberinya izin, maka Thoyib menjawabnya dengan gelar juara. Selalu menarik mendengar cerita Thoyib ketika gelar juara didapat, dan mempersembahkannya untuk kehormatan basket Jawa Tengah. 

Bila dilihat dari catatan prestasinya, sejak tahun 2003, Thoyib sudah mendapatkan enam gelar juara liga basket profesional Indonesia, yaitu di tahun IBL 2003, IBL 2005, NBL Indonesia 2012-13, NBL Indonesia 2013-14, IBL 2016, dan IBL 2018-19. Sementara itu untuk timnas Indonesia, pemain veteran itu sudah berhasil mempersembahkan medali perak SEA Games 2007 Thailand, SEABA 2009 Medan, dan SEABA 2014 Batam. (*)