Dua Musim yang Sulit Bagi Amartha Hangtuah Jakarta


May 08, 2021

Ada apa dengan Amartha Hangtuah Jakarta? Pertanyaan yang sulit untuk dijawab, pun oleh mereka sendiri. Sebab, dalam dua musim terakhir penampilan mereka di luar ekspektasi. Bahkan lebih buruk dari yang diperkirakan pengamat basket tanah air. Hangtuah sepertinya kesulitan memenangkan pertandingan. Skill pemain mumpuni, strategi sudah jitu, tampaknya Hangtuah butuh sedikit suntikan motivasi dalam dua musim terakhir.

Ketika melihat performa Hangtuah di IBL Pertamax 2020 dan IBL Pertamax 2021, ada kencenderungan yang unik di tim ini. Ketika mereka sudah kesulitan di awal musim, maka tim ini tidak bisa serta merta bangkit. Kita ingat saat Hangtuah mengalami delapan kekalahan beruntun di musim reguler 2020 silam. Mereka bisa bangkit setelah Harry Prayogo digantikan Rastafari Horongbala. 

Ketika komposisi staf pelatih tetap, Hangtuah masih juga sulit menemukan kemenangan. Musim 2021, mereka hanya menang dua kali dari 16 pertandingan. Sangat jauh dari harapan. Uniknya, penampilan Hangtuah di liga resmi sangat jauh di bawah dari standar yang mereka tampilkan di saat persiapan, atau pra-musim. 

Komposisi Hangtuah musim ini tidak buruk. Mereka punya guard-guard yang bagus seperti Sevly Rondonuwu, Abraham Wenas, Fisyaiful Amir, dan Kelly Purwanto. Mereka sangat baik saat memainkan strategi small ball. Kemudian ada Oki Wira Sanjaya dan Stevan Wilfredo Neno yang punya kemampuan catch and shoot cukup baik. Tapi kekurangan Hangtuah di sisi paint area, melemahkan semuanya. Mereka tetap butuh big man yang mumpuni di kedua ujung lantai. 

Faktor kelemahan ini bisa dilihat dari catatan statistik yang umum saja. Hangtuah mencetak 26,5 points in the paint selama satu musim. Tapi mereka membiarkan lawan mencetak 39,6 poin ke ringnya. Dari second chance points juga tidak ada bedanya. Hangtuah mencetak 9,8 dan kemasukan 13,3 poin per pertandingan. Catatan tersebut juga sangat berkaitan dengan rebound. 

Sementara itu, dari semua kelamahan yang ditemukan di tim Hangtuah musim ini, ada turnovers yang masih jadi penyakit. Mereka membuat 15,2 turnovers setiap pertandingan. Ini sangat tinggi, karena dari jumlah tersebut, Hangtuah kemasukan 16,4 points from turnovers. 

Tapi apakah Hangtuah memang seburuk itu? Ternyata tidak. Hangtuah mencetak 3 points field goals di kisaran 7,6 tembakan per game. Lawan, ketika berhadapan dengan Hangtuah hanya mencetak 5,8 tembakan. Kemudian untuk free throws, Hangtuah juga lebih baik daripada lawan-lawannya. 

Kedepan diharapkan Hangtuah lebih berapi-api dalam bermain. Motivasi bertandingnya juga tidak boleh naik-turun dengan tiba-tiba. Karena itu yang sering terjadi di lapangan. Coach Rastafari seringkali terlihat kesal dengan penurunan fokus dari anak asuhnya. Mudah-mudahan musim depan Hangtuah bisa lebih baik dari dua musim sebelumnya. (*)