IBL INSIDER X&O - THE PRIDE OF INDONESIA TIMUR

Partisipasi dari putra-putri terbaik Indonesia Timur di IBL dan WIBL telah banyak rekam jejaknya. Padahal masih sering sekali kita dengar kurangnya fasilitas bola basket disana. Salah satu tim IBL yang memiliki pemain-pemain tersebut adalah Hangtuah Sumsel. Dalam Laskar Wong Kito ini terdapat nama-nama pemain yang membawa kebanggaan dari daerah Indonesia Timur: Richardo Orlando Uneputty (Richardo), Yan Steven Pattikawa (Yan) dan Brandon Billy Punyanan (Brandon). Berikut adalah hasil wawancara dengan mereka di tengah-tengah persiapan mereka menghadapi Series Surabaya.

 

IBL: Bagaimana persiapan tim sejauh ini?

Yan: Kalau buat persiapan kita sudah 100% ya, sudah maksimal. Tinggal nanti instruksinya (di lapangan) kita ikutin saja. Tinggal diulang-ulang lagi sekarang oleh pelatih, kayak basic-basicnya. Chemistry pemainnya juga lebih diperbaiki.

 

IBL: Bagaimana perkembangan tim sekarang setelah sempat melakukan sweep di Seri Bandung?

Richardo: Kalau menurut saya mental pemain jadi lebih bagus. Tapi itu tidak bisa jadi patokan kalau kita akan sweep seri selanjutnya. Kita pokoknya selalu berusaha di setiap serinya apa yang jadi target bisa tercapai. Kalau sampai lewat dari target seperti 4-0 kemarin di Seri Bandung itu kayak bonus aja sih dari hasil kerja keras kita. Mudah-mudahan ke depannya kita bisa main lebih baik lagi.

 

IBL: Salah satu kejutan yang dilakukan Hangtuah di Seri Bandung kemarin adalah mampu mengalahkan Satria Muda. Apa yang menjadi penyebabnya?

Yan: Kalau saya lihat waktu itu kita semua siap ya, baik secara offense maupun defense. Anak-anak bermain sabar, ngga terlalu egois. Maksudnya egois main sendiri, tapi egois untuk menangnya besar.

Richardo: Kita dari sebelum pertandingan sampai saat pertandingan kita membekali diri dengan kepercayaan diri bahwa kita bisa lawan siapa saja. Tapi kembali lagi bahwa ini tim gitu, jadi kerja kerasnya harus bersama tim, harus lebih kompak lagi bermain sebagai tim. Pas lawan SM itu kita benar-benar kompak, offense, defense, rebounds. Jadi disitulah kunci kemenangannya, karena kita kompak.

Brandon: Ini merupakan anugerah Tuhan kita bisa menang lawan SM dan bisa sapu bersih di Seri Bandung. Semoga Hangtuah bisa bekerja keras untuk lebih baik lagi selanjutnya.

 

IBL: Bagaimana awalnya sehingga kini bisa bermain bola basket professional?

Yan: Pertama kali main basket secara serius di kompleks rumah di Pulomas (Jakarta Timur). Dulu waktu kecil main di lapangan yang ngga ada lampunya, jadi ya main aja dengan sinar bulan. Main ya modalnya cuma sandal jepit, sampai kaki melepuh. Keluarga sendiri ngga ada yang main basket waktu itu, kebanyakan penyanyi hahaha. Tapi karena saya senang basket ya udah saya terjun di basket.

Mama-Papa saya dari Ambon, tapi saya sudah lahir disini (Jakarta). Tapi saya sering balik Ambon. Waktu saya SD saya pernah disana, kelas lima naik kelas enam. Setelah itu balik Jakarta, lalu kelas 3 SMP sampai kelas 1 SMA balik lagi ke Ambon.

Richardo: Mungkin saya mulai main basket waktu di SMP. Dulu kan karena keluarga main voli. Mama voli, papa voli. Terus pas di SMP kita dikenalin gitu sama basket. Kalau gak salah tuh gara-gara nonton (Allen) Iverson di Indosiar. Setiap hari Senin kalau gak salah Indosiar nyiarin. Pas satu hari pulang sekolah pas Iverson lagi main. Terus lihatin sosoknya yang kok kecil tapi hebat juga. Dari situlah suka basket sampai sekarang.

Jadi olahraga pertama yang saya mainkan adalah voli. Saya main voli di SD sampai Porseni Jawa Barat. Posisi saya jadi tosser, mirip dengan fungsi saya di basket sebagai tukang umpan. Tapi di basket tuh lebih entertaining aja, yah lebih laki banget lah. Kita itu yang benar-benar fight keras, benar-benar kompak sebagai tim. Gitu sih.

Brandon: Kalau saya pertama kali main basket ceritanya mirip dengan Yan, main di kompleks. Di kompleks Gaya Motor, Cilincing. Sudah sepuluh tahunan bermain basket. Keluarga asal dari Kei (Maluku Tenggara), pernah juga balik kesana dan membela Kei di Walikota Cup di kota Ambon.

 

IBL: Bagaimana potensi bola basket di Indonesia Timur, khususnya Maluku?

Yan: Potensi sih sangat luar biasa disana. Tapi fasilitasnya masih kurang. Masih belum ada gelanggang olahraga yang memadai untuk bola basket. Kayaknya sebagian besar dibangun untuk sepak bola. Untuk anak-anak mudanya potensinya besar sekali.

Richardo: Kurang banyak pertandingan juga disana. Kompetisi semacam itu lah. Terus ada baiknya kemudian dikirim ke Jawa jadi pengalaman bertandingnya lebih banyak. Kalau disana aja masih kurang pertandingannya. Mesti nambah event-event basket gitu, three-on-three lah, apa saja.

Karena adik saya kebetulan juga suka juga main basket, yang cewe kebetulan pemain basket juga di Jakarta tapi kemudian kuliah di Ambon. Dia megang kayak Pengcab disana, ngelatih KU. Bisa dibilang sarananya kuranglah, sama event-event pertandingan harus diperbanyak.

 

IBL: Harapan apa yang ingin disampaikan kepada semua dari Maluku dan Indonesia Timur?

Richardo: Kalau saya sih harapannya ada penerus kayak kita-kita gitu. Kita ngga boleh dipandang sebelah mata. Kita buktinya bisa, kenapa kalian tidak bisa. Semuanya kan masalah mau atau tidak maunya berusaha. Kalau kita harapannya wakil dari Indonesia timur ada di tiap tim. Seperti di Garuda Bandung ada orang Papua, kita sangat bangga ada pemain lain yang mau mengharumkan Indonesia Timur.

Yan: Bagi saya kita yang sudah punya pengalaman basket ini mesti kembali ke timur. Ilmunya jangan disimpan sendiri. Kita mau lebih banyak lagi pemain dari Indonesia Timur.

Brandon: Kalau menurut saya sih dibutuhkan untuk mengadakan event-event basket di Indonesia Timur, jangan di Jawa saja. Di Papua, Maluku Tenggara, Ambon, Aru. DBL sudah mulai masuk kesana, jadi mungkin yang lainnya bisa segera menyusul.

 

IBL: Pertanyaan terakhir, apa makna basket untuk kalian? Apa yang basket telah berikan untuk kalian?

Richardo: Melalui basket saya bisa sekolahin adik saya. Bisa kasih uang juga ke mama saya sekarang.

Yan: Basket itu menyelamatkan hidup saya karena menghindarkan saya dari hal-hal yang negatif, seperti narkoba. Karena basket buat saya kenal banyak orang, bisa menghidupi keluarga juga.

Brandon: Lewat basket saya bisa jalan-jalan. Tadinya saya orang biasa saja, nah sekarang bisa jalan-jalan kemana-mana, kapan lagi kan? Hahaha.

 

Related

Jelang liga IBL 2018 , Hangtuah Mulai persiapkan tim

Hangtuah Sumsel baru mulai bersiap menghadapi IBL Pertalite musim depan pada akhir Juli nanti.
[more]

Ingin berkarier di dunia kerja, Toni putuskan pensiun dari dunia basket

Toni Sugiharto mengungkapkan alasan pensiun adalah karena ingin cepat berkarier di dunia kerja.
[more]

Satria Muda Terlalu tangguh bagi Garuda, CLS kembalikan momentum kemenangan

Satria Muda berhasil sapu bersih seri 8, sementara CLS bangkit dan menang
[more]

Download IBL App at:

Play Store Badge App Store Badge